Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Mengenali dan Mengembangkan Potensi Anak Penyandang Autisme


MENGENALI DAN MENGEMBANGKAN
POTENSI   ANAK PENYANDANG AUTISME

Pengertian Potensi
         Potensi adalah kemampuan atau kekuatan atau daya, dimana potensi dapat merupakan bawaan (bakat) dan hasil dari stimulus atau latihan dalam perkembangan anak.
         Potensi anak akan tumbuh seiring perkembangan anak.
         Penggalian potensi anak bukan sesuatu yang instan.

FIVE KEYS dalam mengembangkan potensi anak
1.      Setiap anak memiliki bakat; anak dengan kebutuhan khusus juga mempunyai kemampuan spesial.
2.      Bakat harus dikembangkan melalui latihan dan rangsangan secara terus menerus.
3.      Stimulasi sejak usia dini melalui kegiatan yang menyenangkan (bermain).
4.      Tugas orang tua-lah mengenali & mengembangkan bakat anak (Membutuhkan ketekunan, kesabaran, ketelatenan, kreativitas).
5.      Kembangkan bakat sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Potensi Anak Autisme
Potensi Anak Autisme
Cara Mengembangkan Potensi
         Sama seperti anak normal hanya saja perkembangannya mengalami hambatan.
         Sering tidak dapat berkembang karena masalah perilaku.
         Diperlukan metode khusus yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak
         Penanganannya harus kontinyu dan terprogram.
         Menangani masalah sensorik, seperti hipersensitif, hiposensitif atau kombinasi keduanya
         Fokus pada kelebihan anak
         Mengenali kecerdasan majemuk
         Mengenali gaya belajar anak
         Empati

Tabel 1 : Potensi Anak Autisme

Perilaku Bermasalah Anak Autisme
Masalah Perilaku
Penanganan Perilaku Bermasalah
1.      Perilaku berlebihan :      misalkan tantrum, berlari-larian, melompat-lompat, dll.
2.      Perilaku defisit: kurang perhatian, motivasi rendah, kurang mampu bersosialisasi, dll.
1.      Kenali karakteristik anak
2.      Analisa penyebab perilaku
3.      Ajarkan tingkah laku pengganti
4.      Konsisten dan intensif

Tabel 2 : Perilaku Bermasalah Anak Autisme

Gardner : KECERDASAN MAJEMUK
  1. S patial – visual  intelligence
  2. L inguistic intelligence
  3. I nterpersonal intelligence
  4. M usical intelligence
  5. N aturalist intelligence
  6. B odily-kinesthetic intelligence
  7. I ntrapersonal intelligence
  8. L ogical-mathematical intelligence

1.      Kecerdasan ruang
Ciri : 
  1. Bermain puzzle, balok, maze, membangun bentuk
  2. Mengamati gambar / poster /  film
  3. Berimajinasi membentuk bangunan lewat permainan
  4. Kreatif berimajinasi dengan mainan (internal imagery)

Stimulasi   :
  1. Menggambar, melukis, memberi buku ilustrasi
  2. Membuat prakarya
  3. Mengunjungi berbagai tempat (museum, obyek wisata)
  4. Menggunakan gambar, film, peta, slide, dll untuk merangsang rasa ingin tahu anak dan mengembangkan kemampuan bermain imajinasi dengan mainan
  5. Mengatur dan merancang (misal : rak sepatu, rak mainan, rak buku,  kamar tidur)sesuai kemampuan motorik dan usia anak

2.      Kecerdasan musikal (musical)
Ciri :
  1. Mudah mengenali dan mengingat nada
  2. menyukai kegiatan yang melibatkan pola ritmis sebagai alat bantu belajar (misal, ‘melagukan’ pelajaran yang sedang dipelajari)
  3. mudah mengenali dan mempertahankan beat lagu yang sedang didengar atau dimainkan
  4. peka terhadap ritme, ketukan, irama dan melodi lagu/musik
Stimulasi   :
  1. memperdengarkan musik
  2. menyanyikan atau memutar lagu (kaset / CD / radio)
  3. latihan mengenal ritme melalui gerak tubuh dan alat musik sederhana buatan sendiri
  4. belajar bersenandung melalui kegiatan bermain dan secara bertahap dengan lagu-lagu sederhana
  5. melakukan gerak berirama (menari-bebas mengikuti irama lagu)
  6. mendengarkan musik bersama dan mengajak anak untuk mengenali alat-alat musik yang digunakan, menggambar dengan musik, membuat alat musik sederhana.


3.      Kecerdasan naturalis/lingkungan (naturalist)
Ciri :
  1. Menikmati benda-benda dan cerita yang terkait dengan fenomena alam (misal, terjadinya awan dan hujan)
  2. Gemar mengumpulkan batu-batuan, kupu-kupu, kulit kerang,
  3. Menyukai binatang dan gemar mengamati perilaku binatang
  4. Menyukai kegiatan berkebun, menanam sesuatu serta mengamati pertumbuhan tanaman
  5. Senang dengan kegiatan yang berhubungan dengan alam (berkemah, memandangi awan, mengamati barisan semut, meneliti bunga-bunga, dll).
Stimulasi   :
  1. Memiliki binatang peliharaan (misal, ikan dalam akuarium)
  2. Menanam biji-bijian atau tumbuhan dalam tabung / pot
  3. Menggambar binatang/tumbuhan/bagian dari alam hasil pengamatan anak
  4. Membuat hiasan dari kerang atau bebatuan
  5. Mengajak anak dalam kegiatan di alam 
  6. Mengunjungi kebun binatang/taman safari, sea world, museum serangga, planetarium, perkebunan dan peternakan
  7. Memberikan pengetahuan untuk mengantisipasi bahaya alam, seperti : jenis binatang buas, serangga berbisa, tanaman dan jamur beracun, petir, banjir, dll

4.      Kecerdasan gerak tubuh
Ciri :
  1. keterampilan motorik halus dan kasar yang baik
  2. senang bergerak (berjalan, berlari, melompat, menari, dll)
  3. suka menyentuh sesuatu (eksplorasi melalui sentuhan/perabaan dan otot-otot)
  4. suka memperbaiki atau membongkar sesuatu
  5. sering menggunakan atau menggerakkan anggota tubuhnya ketika berbicara
Stimulasi   :
  1. Menari
  2. bermain peran
  3. bermain gesture (gerak tubuh dan tangan)
  4. drama, pantomim
  5. latihan fisik (misal, berjalan di atas papan, senam mencium lutut, bermain lompat tali,  dll
  6. berbagai olah raga sesuai usia dan perkembangan motorik anak
  7. Bermain sepeda, sepatu roda, dll

5.      Kecerdasan logika-matematika
Ciri :
a.       pandai dalam matematika, catur, dan  memprogram komputer.
b.      Berpikir menggunakan pola-pola dan hubungan   antara pola-pola dengan angka.
c.       Pada masa kanak-kanak mereka tertarik pada musik dan bisa memainkan alat musik hanya dari mendengar saja.
Stimulasi   :
  1. mengelompokkan benda
  2. bermain puzzle, balok, lego
  3. memperkenalkan bentuk geometri dan pola
  4. mengukur sesuatu
  5. membandingkan berat benda
  6. bermain kartu, kalkulator,  komputer
  7. interaksi dengan konsep matematika dalam praktek (misal, menghitung belanjaan – sesuai usia)



Mengenali Gaya Belajar Anak
Gaya belajar visual
Gaya belajar kinestetik
         Dapat mengingat gambar dan informasi visual secara mendetil.
         Dapat memiliki rekaman video dalam memori.
         Alat bantu visual yang jelas dan menarik mutlak digunakan dalam belajar berbagai informasi, membuat jadwal, memberikan instruksi dan berkomunikasi.

         Masalah sensorik pada anak SA  menyebabkan kesulitan dalam konsentrasi dan kontrol diri.
         Proses belajar akan lebih berhasil bila dilakukan dengan mengerjakan langsung dan pada konteks sesungguhnya.
         Menurut penelitian, gerakan yang tepat diperlukan untuk mengembangkan cabang-cabang syaraf otak dan memperbaiki fungsi sensorik.
Tabel 3 : Gaya Belajar Anak Autisme

Empati Pada Anak Autisme
Pengertian
Manfaat
Cara mengembangkan
         Kemampuan untuk memahami kondisi anak dan bagaimana anak menghayati dirinya dan dunia luar.
         Untuk dapat menetapkan penanganan yang efektif perlu berempati terhadap anak.
         Mengembangkan empati tidak selalu mudah karena adanya perbedaan dalam mempersepsi dunia luar pada anak-anak dengan masalah tingkah laku.
         Menciptakan hubungan yang  intim secara emosional yang selanjutnya memberikan rasa aman dan dimengerti pada anak.
         Meningkatkan keinginan membuka diri pada anak, baik secara verbal maupun non verbal.
         Mengetahui alasan dibalik tingkah laku anak sehingga dapat diberikan respon dan penanganan yang tepat.
         Observasi
         Wawancara dengan orang-orang yang dekat dengan anak
         Terlibat dalam kegiatan yang diminati anak
         “Mendengarkan” ungkapan diri anak (kata-kata, hasil karya, surat)
         Meniru tingkah laku anak

Tabel 4 : Empati Pada Anak Autisme

Read More..

Jumat, 23 November 2012

Family Therapy (Terapi Keluarga)






Konsep Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern & Pinsof, 1986). Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekwensi dan konteks social. Contohnya, klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interksi orang tua- anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive (Bateson et al,1956; Lidz&Lidz, 1949 ;Sullivan, 1953).
Penelitian mengenai terapi keluarga dimulai pada tahun 1950-an oleh seorang Antropologis bernama Gregory Bateson yang meneliti tentang pola komunikasi pada keluarga pasien skizofrenia di Palo Alto, California. Penelitian ini menghasilkan 2 konsep mengenai terapi dan patologi keluarga, yaitu :
  1. the double bind (ikatan ganda)
Dalam terapi keluarga, munculnya gangguan terjadi saat salah satu anggota membaik tetapi anggota keluarga lain menghalang-halangi agar keadaan tetap stabil.
  1. family homeostasis (kestabikan keluarga)
Bagaimana keluarga menjaga kestabilannya ketika terancam.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan fungsi anggota keluarga maka sistem dalam keluarga musti dipengaruhi dengan melibatkan seluruh anggota keluarga bukan individual/perorangan.
Adanya gangguan dalam pola komunikasi keluarga adalah inti dari double bind. Ini terjadi bila ‘korban’ menerima pesan yang berlawanan/bertentangan yang membuat sulit bertindak konsisten dan memuaskan. Anak diberitahukan bahwa ia harus asertif dan membela haknya namun diwaktu yang sama dia diharuskan menghormati orangtuanya, tidak menentang kehendaknya, dan tidak pernah menanyakan/menuntut kebutuhan mereka. Apa yang dikatakan berbeda dengan yang dilakukan. Keadaan ini selalu ditutupi dan disembunyikan, sehingga si ‘korban’ tidak pernah menemukan sumber dari kebingungannya. Jika komunikasi ini (double bind communication) terjadi berulang kali, akan mendorong perilaku skizoprenik.
Kemudian timbul kontrovesi mengenai teori double bind ini, khususnya dengan faktor gentik dan sosiologi yang menyebabkan terjadinya skizofrenia. Hal ini kemudian melahirkan penelitian untuk pengembangan terapi keluarga.
Teori keluarga memiliki pandangan bahwa keluarga adalah fokus unit utama. Keluarga inti secara tradisional dipandang sebagai sekelompok orang yang dihubungkan oleh ikatan darah dan ikatan hukum. Fungsi keluarga adalah sebagai tempat saling bertukar antara anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional setiap individu. Untuk menjaga struktur mereka, sistem keluarga memiliki aturan, prinsip-prinsip yang memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas hidup sehari-hari. Beberapa peraturan yang dinegosiasikan secara terbuka dan terang-terangan, sedangkan yang lain terucap dan rahasia. Keluarga sehat memiliki aturan yang konsisten, jelas, danditegakkan dari waktu ke waktu tetapi dapat disesuaikan dengan perubahan perkembangan kebutuhan keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki peranan yang jelas terkait dengan posisi sosial mereka.
Terapi keluarga sering dimulai dengan fokus pada satu anggota keluarga yang mempunyai masalah. Khususnya, klien yang diidentifikasi adalah remaja laki-laki yang sulit diatur oleh orang tuanya atau gadis remaja yang mempunyai masalah makan. Sesegara mungkin, terapis akan berusaha untuk mengidentifikasi masalah keluarga atau komunikasi keluarga yang salah, untuk mendorong semua anggota keluarga mengintrospeksi diri menyangkut masalah yang muncul. Tujuan umum terapi keluarga adalah meningkatkan komunikasi karena keluarga bermasalah sering percaya pada  pemahaman tentang arti penting dari komunikasi (Patterson, 1982).
Terapi keluarga mengajarkan penyelesaian tanpa paksaan, mengajarkan orang tua untuk menetapkan kedisiplinan pada anak-anak mereka, mendorong tiap anggota keluarga untuk berkomunikasi secara jelas satu sama lain, mendidik anggota keluarga dalam prinsip perubahan perilaku, tidak menekankan kesalahan pada satu anggota akan tetapi membantu anggota keluarga apakah hyarapan terhadap anggota yang lain masuk akal.
Pendekatan berpengaruh yang lain disebut strategi atau terapi keluarga terstruktur (Minuchin, 1974; Satir, 1967). Disini, terapis berusaha menemukan problem utama dari masalah klien dalam konteks keluarga, bukan sebagai masalah individual. Tujuannya adalah untuk mengurangi sikap menyalahkan yang mengarah pada satu orang. Contohnya, terapis menyampaikan bahwa perilaku menentang dan agresif dari remaja mungkin adalah tanda dari ketidakamanan remaja atau alasan untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari ayahnya. Pada banyak keluarga yang mengalami stress, pesan emosional begitu tersembunyi sehingga anggota keluarga lebih sering berbicara tanpa berbuat. Mereka sering mengasumsikan bahwa mereka dapat “saling membaca pikiran masing-masing”.
Saat ini, terapi keluarga terstruktur telah disesuaikan untuk membawa faktor budaya yang mungkin berpengaruh pada terapi keluarga dari kelompok etnis tertentu. Untuk membawa keluarga ke terapi, membuat mereka tetap kembali, harus ada perjanjian keluarga yang disusun untuk menghindari hal-hal berikut :
  1. penolakan anak untuk mengikuti terapi,
  2. sikap ambivalen ibu dalam memasukkan keluarganya ke dalam terapi,
  3. penolakan keberadaan seorang ayah dalam keluarga, dan
anggota keluarga tetap berusaha menjaga rahasia keluarga dari orang asing.
Terapi keluarga biasanya diberikan saat pasien sudah dewasa sebagai hasil dari keluarga yang patologis. Terapi individual mungkin tidak berguna karena kondisi keluarga yang tidak mendukung.
Kondisi keluarga itu bisa mengganggu kepribadian dan tingkah laku pasien. Namun jika memungkinkan, tritmen bagi penderita skizofrenia atau borderine yang masih awal dengan memanfaatkan seluruh anggota yang ada mungkin bisa berguna. Terapi dimulai dengan fokus pada masalah yang dialami pasien dalam keluarga dan kemudian anggota keluarga menyampaikan/memberikan kontribusi masing-masing. Terapis bertugas untuk mendorong seluruh anggota keluarga untuk mau terasa terlibat dalam masalah yang ada bersama-sama.
Terapis keluarga biasa dibutuhkan ketika :
1.      Krisis keluarga yang mempengaruhi seluruh anggota keluarga
2.      ketidak harmonisan seksual atau perkawinan
3.      konflik keluarga dalam hal norma atau keturunan

Unsur – Unsur Terapi Keluarga
Terapi keluarga didasarkan pada teori system (Van Bertalanffy, 1968) yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya. Prinsip kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti  sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
Terapi keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga. Tanpa adanya ksadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa system dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga.

Tujuan Terapi Keluarga
Tujuan pertama adalah menemukan bahwa masalah yang ada berhubungan dengan keluarganya, kemudian dengan jalan apa dan bagaimana anggota keluarga tersebut ikut berpartisipasi. Ini dibutuhkan untuk menemukan siapa yang sebenarnya terlibat, karenanya perlu bergabung dalam sesi keluarga dalam terapi ini, juga memungkinkan apabila diikutsertakan tetangga, nenek serta kakek, atau keluarga dekat yang berpengaruh. Ada cara tercepat dalam terapi dimana terapis keluarga membuat usaha untuk mempengaruhi seluruh anggota keluarga dengan menunjukan cara dimana mereka berinteraksi dalam sesi keluarga itu. Kemudian, setiap anggota keluarga diminta menyampaikan harapan untuk perkembangan diri mereka sebaik mungkin, umumnya untuk menyampaikan komitmen pada terapis.
Tujuan jangka panjang bergantung pada bagian terapis keluarga, apakah sebagian besar yang dilakukan untuk mengembangkan status mengenali pasien, klarifikasi pola komunikasi dlm keluarga, dll. Dalam survey, responden diminta menyebut tujuan primer dan sekunder mereka, untuk seluruh keluarga, kedalam 8 kemungkinan tujuan. Tujuan yang disebut sebagai tujuan primer ‘mengembangkan komunikasi’ untuk seluruh keluarga, ternyata lebih dipilih ‘mengembangkan otonomi dan individuasi’. Sebagian memilih ‘pengembangan symptom individu’ dan ‘mengembangkan kinerja individu’. Memfasilitasi fungsi individu adalah tujuan utama dari terapi individual, tetapi para terapis keluarga melihat sebagai bukan yang utama dalam proses perubahan keluarga yang luas, khususnya sistem komunikasi dan sikap anggota keluarga yang menghormati anggota lainnya.
Dalam survei, bagaimanapun, menjadi jelas bahwa para therapists keluarga dengan susah bersatu di dalam metoda dan konsep perawatan keluarga. Hampir semua, Di tahun 1970, ketika itu tritmen keluarga banyak yang utama adalah patient-centered. Anggota keluarga yang lain, memberi informasi menyangkut pasien. Contoh ekstrim yang lain adalah itu merasa terikat dengan suatu pendekatan sistem, sebagai contoh, Satir dan halay. Mereka melihat proses dari permulaan hingga akhir dengan memusatkan pada keluarga dengan harapan perubahan dalam keluarga dan membawa ke arah hidup lebih sehat untuk semua anggota nya. Mereka menekankan proses keluarga dengan individual psychodinamics, dengan perhatian mereka, memusat pada pasien yang dikenali.

Proses dan Teknik Terapi Keluarga                   
Dalam perjalanannya, untuk membedakan suatu dimensi dari berorientasi individu ke sistem yang diorientasikan pemikiran, keluarga therapists dapat diuraikan seperti kepala perguruan tinggi/ dirigen. Dirigen, sebagai pembanding, cenderung ke program dan mengorganisir cara bekerja, menentukan agenda, menugaskan tugas, dan dengan aktif menanyai dan mengajar. Dalam kasus Ackerman, ini mungkin dalam rangka menghilangkan pengingkaran dan kemunafikan, menuntut anggota keluarga untuk lebih membuka dengan dia dan dengan diri mereka. Ia menghadapi seksual, agresif, dan perasaan tergantung. Cara nya besar, yakin, dan jujur. Satir, pada sisi lain, menjadikan dirinya sebagai guru dan tenaga ahli di  komunikasi. Dia mengarahkan ke diskusi, dan menunjukkan permasalahan dalam hal komunikasi. Dia menetapkan dirinya sebagai contoh komunikasi yang jelas, penggunaan yang sederhana dan kata-katanya jelas, dan menjelaskan prinsip nya kepada keluarga. Meskipun demikian terkait dengan segi manusia yang lain yang dapat merasakan dan interaksi, dia pada dasarnya seorang guru dan contoh yang memiliki kejelasan dalam berkomunikasi. Bagaimanapun, apakah lebih sebagai kondektur atau reaktor, Ackerman dan Satir, semua keluarga therapists perlu bermain suatu peran yang lebih aktif dibanding yang sudah biasa dalam individu therapy. Therapist harus yang lebih memiliki kemampuan dalam penggunaan kendali, melembutkan argumentasi, dan memandu diskusi. Terapi keluarga meletakkan therapist dalam suatu hubungan yang berbeda dengan klien nya dibanding dalam  terapi kelompok atau individu. Ia tidak dimulai dari dasar yang sama atau dari sama sama ketidak-tahuan. Anggota keluarga masuk dengan suatu pengalaman umum; therapist adalah orang luar. Dalam pelaksanaan bahkan untuk mengerti sindiran sindiran mereka untuk membagi bersama pengalaman, ia harus belajar ke kultur keluarga, bahasa dan aturan. Therapist harus sampai kepada dalamnya sistem keluarga memahami dan bekerja dengan itu. Sekalipun begitu ia tidak bisa menjadi 'yang diatur & bagian dari sistem', karena ia harus menyendiri dari itu dalam rangka memahami aktivitas nya dan untuk memandu perubahan nya. Begitu, sisanya antar detasemen dan keterlibatan menjadi yang lebih dikritisi dalam keluarga therapy dibanding dalam bentuk lain psikoterapi. Cara-cara lain, adalah dengan  berbagi tugas yang umum dari semua therapists, untuk menyediakan suatu atmospir yang mendukung dan aman untuk menghadapi pengalaman menyakitkan.
Therapy umumnya mulai dengan usaha untuk menemukan apa yang sedang mengganggu keluarga dan apa yang mereka harapkan melalui terapi ini. Sesi pertama atau kedua hanya boleh melibatkan pasangan yang sudah menikah, dimana sebagai pemimpin menyangkut keluarga. Yang secara khas cukup, masalah yang ada dikaitkan dengan perilaku yang menganggu menyangkut pasien yang dikenali "Pemuda lontang lantung mogok sekolah, dan menggunakan narkoba." Itu hampir suatu kebenaran mutlak bahwa semua anggota keluarga tidak membagi dugaan yang sama tentang apa yang salah, mengapa masalah datang, atau seberapa penting hal itu diharapkan untuk di tritmen bersama-sama. Untuk memperjelas gabungan persepsi dan alasan adalah suatu awal tugas penting. Dalam proses yang sama, therapis berusaha untuk mengkomunikasikan sebagian dari peraturan utama, bahwa semua anggota akan diperlakukan sebagai individu, mereka akan masing-masing diharapkan untuk mengambil bagian, dan poin-poin pandangan mereka akan dihargai.
Suatu contoh dari suatu awal sesi suatu keluarga bersama dengan Virginia Satir dapat memperjelas. Keluarga terdiri dari seorang laki-laki dan Mary dan anak-anak mereka, Johnny (16) dan Patty (7). Orang tua telah mencari bantuan untuk kelakuan buruk sang pemuda di sekolah. Dalam posisi ini di dalam wawancara itu Satir telah menemukan Johnny itu berpikir bahwa keluarga  sedang mengadakan suatu perjalanan, sedang Patty berpikir mereka akan menemui seseorang untuk memperbicangkan tentang keluarga. Satir bertanya pada anak-anak di mana mereka mendapat gagasan mereka itu.
Patty      : ibu mengatakan kami akan memperbicangkan tentang permasalahan keluarga
Therapist: Bagaimana dengan Bapak? Apa ia menceritakan kepada kamu hal yang sama?
 P             : Tidak ada
 T            : Apa yang telah Bapak katakan?
 P             : Ia berkata kita  akan mengadakan suatu perjalanan
 T            : ok. jadi kamu mendapat beberapa informasi dari ibu dan beberapa informasi lagi dari Bapak. Bagaimana dengan kamu, Johnny: Di mana kamu mendapatkan informasi mu?
Johnny : Aku tidak ingat
T             : Kamu tidak ingat siapa yang menceritakan kepada kamu?
Mother   : Aku tidak berpikir aku berkata apapun kepadanya. Ia tidak di sekitar saat itu, aku mengira
T             : Bagaimana denganmu Bapak? Ada yang Anda katakan ke Johnny?
Father    : Tidak ada, aku pikir Mary yang telah menceritakan kepada dia
T             : ( ke Johnny) baik, kemudian, bagaimana kamu bisa ingat jika tidak ada apapun dikatakan
J              : Patty mengatakan kita akan menemui seorang nyonya untuk membicarakan tentang keluarga.
T             : ok. jadi Kamu Dapat informasi mu dari saudari mu, sedangkan Patty mendapat info dari Ibu dan Bapak.
( Therapist melanjutkan, menanyakan pada anak-anak bagaimana mereka menangani perbedaan pesan dari kedsua orang tuanya. Dia kemudian bertanya pada orang tua perkataan apa yang  mereka ingat.
T             : Bagaimana dengan itu, Ibu? Adalah kamu dan Bapak sama-sama bekerja ke luar apa yang kamu akan ceritakan kepada anak-anak?
M            : beginilah, aku berpikir ini adalah satu masalah kami. Ia mengerjakan hal-hal dengan mereka dan aku lakukan hal yang lain
F              : Aku berpikir ini adalah suatu hal yang tak penting untuk dicemaskan
T             : Tentu saja ini penting. Akan tetapi kita justru dapat menggunakan itu, untuk lihat bagaimana pesan berseberangan dalam keluarga. Salah satu hal penting dalam keluarga adalah bagaimana anggota keluarga berkomunikasi dengan jelas sehingga pesan mereka tersampaikan. Kita harus lihat bagaimana Ibu dan Bapak dapat bersama sedemikian sehingga Johnny dan Patty dapat mendapat pesan jelas.
 ( segera, dia menambahkan;)
T             : kemudian, Aku akan menceritakan kepada kamu mengapa Ibu dan Bapak sudah kemari. Mereka kemari sebab mereka tak bahagia dalam keluarga dan mereka ingin membuat rencana sedemikian rupa sehingga semua anggota keluarga dapat mendapat lebih kesenangan dari kehidupan berkeluarga.
Dalam peristiwa ini secara ringkas kita lihat Satir memperkenalkan keluarga ke konsep komunikasi, selagi menyelidiki pemahaman therapy mereka. Dalam tekniknya, masing-masing anggota didukung untuk berbicara atas nama dirinya dan untuk membuat posisi nya dikenal; therapist boleh menyela jika seseorang usaha untuk menghadirkan pandangan yang lain. Begitu, dia membantu perkembangan suatu perasaan berharga dan kejelasan pada setiap orang.
Awal dalam sesi keluarga, suatu sejarah luas keluarga diambil. Ini mulai dengan perkawinan sepasang orangtua ( " arsitek keluarga" di dalam istilah Satir), yang mana  menyampaikan kepada anak-anak yang sedikit banyak cerita mengejutkan dalam suatu keluarga mereka masukan ke dalamnya. Cerita beralih kepada saat ini dan mengembalikan kepada awal hidup dari orang tua di dalam keluarga-keluarga asal mereka. Therapist begitu mendapatkan suatu dugaan menyangkut karakter di dalam kehidupan berkeluarga dan tentang yang terdahulu dan kesinambungan perilaku mereka. Anak-Anak bisa jadi menemukan bahwa ketika anak-anak menderita banyak kemarahan yang sama ternyata bertentangan dengan orang tua mereka. Permasalahan kini diberi perspektif dan mungkin yang lebih dapat dikendalikan. Di dalam proses, dongeng keluarga dapat diungkapkan dan barangkali dikubur. Meskipun demikian mereka sudah sering mendengar bapak berkata kepada ibu, "ia mengerjakan mempunyai paman mu darah Max'S,

Pendekatan Terapi Keluarga
1.      Network therapy
Secara  logika,  terapi  keluarga  adalah  perluasan  dari  simultan  dengan semua  yang  tersedia  dari  system  kekeluargaan,  teman,  dan  tetangga serta  siapa  saja  yang  berkepentingan  untuk  memupuk  rasa  kekeluargaan   ( Speck and Attneave, 1971).
2.  Multiple-impact therapy
Multiple-impact  therapy  biasanya  dapat  membantu  remaja pada  saat  mengalami  krisis  situasi  ( MacGregor et al.,1964 ). Tim kesehatan mental bekerja dengan keluarga yang beramasalah selama dua hari. Setelah dibei pengarahan, anggota tim akan dipasangkan dengan  salah satua atau lebih anggota keluarga dengan beberapa varisasi kombinasi. Mungkin ibu dan putrinya dapat ditangani oleh satu orang terapist, sedangkan ayah ditangani secara individual sepert halnya anak laki-lakinya. Bila dibutuhkan regroup diperbolehkan untuk mengeksplorasi maslah keluarga yang rumit. Tujuan dari terapi adalah untuk reorganisasi sistem keluarga sehingga dapat terhindar dari malfungsi. Diharapkan sistem keluarga menjadi lebih terbuka dan adaptif, untuk itu terus dilakukan followup.
3.  Multiple- family and multiple- couple group therapy
Masa  kegiatan  kelompok  keluarga  selanjutnya  menimbulkan  suatu  keadaan  yang  biasa  untuk  membantu  masalah  emosional ( e.g., Laqueur, 1972 ). Model  ini,  partisipan  tidak  dapat  memeriksa  satu  persatu  dengan  mentransaksi  keluarga  kecil  mereka  tetapi  mengalami  simultan  mengenai  masalah  ekspresi  oleh  keluarga  dan  pasangan  suami  istri. Dengan  demikian,  terapi  kelompok  ini  dapat  menunjang  pemikiran  pada  pasangan  suami  istri.



DAFTAR PUSTAKA

Becvar, Dorothy S. Becvar, Raphael J. 1976.Family Teraphy ( A systematic Intregation). Adivision of  Simon & Schester, Inc. Needham Height; Massachusetts.
Korchin, Sheldon J. 1976.Modern Clinical Psychology. Basic Books, Inc. Publishers: New York.
Nietzel, Michael. 1998. Introduction To Clinical Psychology. Simon & Schuster /  Aviacom Company. Upper Saddle River: New Jersey.


Selengkapnya bisa didownload disini : Terapi Keluarga
Read More..