Tampilkan postingan dengan label PsikologiPendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PsikologiPendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2012

Motivasi Belajar, Hmmmmm (Its IMO)


UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

Sebagai seorang pendidik, guru tidak harus tinggal diam ketika ada anak didik yang tidak terlibat langsung dalam belajar bersama. Usaha perbaikan harus dilaksanakan agar mereka bergairah belajar.

Menurut De Decca dan Grawford (1974) ada empat fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemelihraan dan peningkatan motivasi belajar anak didik, yaitu guru harus dapat mengairahkan anak didik, memberikan harapan yang realitstis, memberikan insentif, dan mengarahkan perilaku anak didik ke arah yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran.

1.      Menggairahkan anak didik
-          Guru harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan.
-          Guru harus memelihara minat anak didik dalam belajar, yaitu dengan metode pembelajaran discovery learning dan metode sumbang saran (brain storming).
-          Guru harus mengetahui pengetahuan yang cukup untuk disposisi awal setiap anak didiknya agar dapat menggairahkan anak didik.

2.      Memberikan harapan realistis
Harapan yang diberikan tentu saja terjangkau dan dengan pertimbangan yang matang. Harapan yang tidak realistis adalah kebohongan itu yang tidak disenangi anak didik. Jadi, jangan coba-coba menjual harapan munafik bila tidak ingin dirugikan oleh anak didik.

3.      Memberikan insentif
Bila naka didik mengalami keberhasilan, guru diharapkan memberikan hadiah kepada anak didik (baik berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya) atas keberhasilannya sehingga anak didik terdorong melakukan usaha lebih lanjut untuk mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Insentif yang demikian diakui keampuhannya untuk membangkitkan motivasi secara signifikan.

4.      Mengarahkan perilaku anak didik
Menurut French dan Raven (1959) yang dikutip oleh Gage dan Berliner (1979) menyarankan sejumlah cara meningkatkan motivasi anak didik tanpa harus melakukan reorganisasi kelas secara besar-besaran, yaitu :
a.       Pergunakan pujian verbal
Kata-kata seperti ‘bagus’, ‘baik’, ‘pekerjaan yang memuaskan’ yang diucapkan segera setelah anak didik selesai mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan atau mendekati tingkah laku yang diinginkan merupakan pembangkit motivasi yang besar.
b.      Pergunakan tes dan nilai secara bijaksana
Kenyataan bahwa tes dan nilai digunakan sebagai dasar berbagai hadiah sosial (penerimaan lingkunagn, promosi, pekerjaan yang baik, uang yang lebih banyakdan sebagainya) meyebabkna tes dan nilai dapat menjadi  suatu kekuatan untuk memotivasi anak didik. Penyalahgunaan tes dan nilai akan mengakibatkan menurunnya keinginan anak didik untuk berusaha belajar dengan baik.
c.       Membangkitkan rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi
Rasa ingin tahu pada anak didik melahirkan kegiatan yang positif, yaitu eksplorasi. Kebangkitan motivasi tidak dapat dibendung bila di dalam diri anak sudah membera rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi.
d.      Melakukan hal yang luar biasa
e.       Merangsang hasrat anak didik
Hasrat anak didik perlu dirangsang dengan memberikan kepada anak didik sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha dan berprestasi dalam belajar.
f.       Memanfaatkan apersepsi anak didik
Bahan apersepsi merupakan seperangkat materi yang dikuasai yang melicinkan jalan menju penguasaan materi pelajaran yang baru.
g.      Terapkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam konteks unik dan luar biasa agar anak didik  tebih terlibat dalam belajar.
h.      Minta kepada anak didik untuk mempergunakan hal-hal yang sudah dipelajari sebelumnya.
i.        Pergunakan simulasi dan permainan
j.        Perkecil daya tarik sistem motivasi yang bertentangan.
k.      Perkecil konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenagkan terhadap anak didik dari keterlibatannya dalam belajar, yaitu :
-          Anak didik kehilangan harga diri karena gagal memahami atau memecahkan suatu permasalahan dengan tepat.
-          Dari aspek fisik, anak merasa tidak nyaman seperti duduk terlalu lama.
-          Anak didik frustasi karena tidak mungkin mendapatkan penguatan (reinforcement).
-          Anak didik harus mempelajari materi yang terlalu sulit bagi tingkat kemampuannya
-          Anak didik tidak mendapatkan umpan balik dari guru
-          Anak didik dikelompokkan bersama anak didik yang kurang pandai dibandingkan dirinya.

Sedangkan, menurut sumber lainnya (www.bruderfic.or.id) Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2.       Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.       Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5.       Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.       Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9.       Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10.   Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
Cara lain untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar adalah kita sebagai pendidik, menggunakan metode cooperative learning dapat mencegah keagresivan dalam sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif, meningkatkan kemajuan belajar(pencapaian akademik), meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif dan menambah motivasi dan percaya diri.
Pada penerapan model pembelajaran take and give learning with quiz, ice breaking , siswa termotivasi mengikuti pelajaran fisika yang ditunjukkan dengan keaktifan mereka dalam berdiskusi kelompok, memberikan penjelasan pada teman (give learning), mendengarkan penjelasan teman (take learning), dan berusaha untuk menjawab quiz 2 dengan cepat dan benar. 

Kesimpulan :
Berdasarkan sumber-sumber diatas, saya simpulkan bahwa upaya meningkatkan motivasi anak didik bermacam-macam dan tergantung kondisi dan situasi pembelajaran pada anak dan kondisi kelasnya. Sebagai pendidik, sebaiknya meningkatkan motivasi dengan cara-cara sebagai berikut :
1.      Memberikan insentif (hadiah, pujian, dan reinforcement lainnya, hukuman bisa juga)
2.      Mengarahkan pada pembelajaran yang efektif, baik melalui metode discovery learning, take and give learning, brain storming, ataupun cooperative learning.
3.      Melakukan suatu inovasi baru, baik menggunakan ice breaking ataupun hal-hal yang luar biasa yang jarang dilakukan oleh pendidik, atau menggunakan media yang modern dan menarik, dan metode pengajaran yang bervariasi.
4.      Mengarahkan perilaku anak didik ke hal-hal yang positif dan terorganisir yang membuat anak didik semakin kreatif, kritis dan logis.
5.      Menggairahkan anak didik tentang manfaat pembelajaran, tujuan kedepan yang ingin dicapai.
6.      Memberikan harapan yang realistic.
Referensi :
Amiroh. 2009. Pembelajaran Inovatif. http://blog.unila.ac.id/ Tanggal 10 Maret 2010. Online
Djamarah, B. S. 2008. Psikologi Belajar. Rineka Cipta : Jakarta
Hasan, Tode. 2007. Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa. http://www.bruderfic.or.id/  Tanggal 10 Maret 2010. Online.


Read More..

Rabu, 31 Oktober 2012

CRITICAL REVIEW : “Good Behavior” dan “Missbehavior”, Apa Ukurannya?

Oleh : Asmiani Fawziah

Pada entry sebelumnya, disini saya memposting tentang artikel : Good behavior, missbehavior, apa ukurannya? Artikel ini tampak menarik di bagian judulnya yang mana akan membahas sekelumit ukuran dan indikator anak murid yang good dan miss behavior-nya? Namun, kami belum menemukan secara tersurat bagaimana indikator tersebut.

Apakah good behavior itu??

Good behavior ditandai dengan perilaku murid sekolahan, baik sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun sekolah menegah, bahkan bisa juga mahasiswa kampus perguruan tinggi, yang manis, yang memperhatikan guru, yang menjadi anak emas sang pengajar, dan membuat hati guru menyenangkan karena ulahnya. Good behavior, perilaku yang baik secara gamblangnya, jelas saja anak yang memiliki perilaku baik akan mendapatkan poin plus-plus dari sudut pandang pengajarnya, tapi bagaimana tolak ukur murid yang memiliki ‘good behavior’  tersebut? Bagaimana juga mengembangkan anak yang miss menjadi good?

Nah, pertanyaan di atas, akan kita kita bahas one by one, step by step, di bawah ini.

Setiap anak tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, di mana ada anak yang miss, maupun ada juga yang good, kami meyakini bahwa setiap anak ‘normal’ pastilah menginginkan perilaku yang good, begitu juga dengan orang tua dan guru pengajarnya di sekolah. Orang tua  mana yang rela anaknya berperilaku miss sehingga menjadi trouble maker dalam kehidupan keluarga, yang membuat masalah tak kunjung reda, tak ada habisnya dan hanya membuat pusing mereka. Guru atau pengajar mana pula yang ingin mempunyai anak didik yang berperilaku miss, ‘kepiawaan guru atau pengajar’ akan dipertanyakan ketika memiliki sejumlah anak didik yang miss, karena ada indikasi apakah salah muridnya atau bahkan salah gurunya.


Berbicara mengenai good dan miss behavior , ini adalah berbicara mengenai perilaku, perilaku yang diamati atau dapat dilihat berdasarkan pengalaman , bukan proses mental, di mana behavior tersebut adalah suatu konsep pembelajaran, mengapa pembelajaran? Karena behavior ini dapat berubah pada seseorang karena pengalamannya. Jadi tersiratnya perilaku miss bisa berubah menjadi good, dan perilaku good-pun dapat berubah menjadi miss.


Bagaimana indikator good behavior?
Kami mendiskusikan bahwa suatu perilaku itu adalah suatu yang berjalan secara non-absolute, tidak mutlak, dasarnya adalah individu dapat memanipulasi perilakunya dalam situasi ataupun kondisi yang dia inginkan. Behavior juga menjelaskan tentang belajar, yaitu perubahan perilaku yang dapat diamati, dinilai, dan diukur secara konkret. Jadi of course, bahwa suatu perilaku tentunya mempunyai tolak ukur tersendiri. Apabila sudah memenuhi tolak ukur suatu perilaku yang berubah dari tolak ukur perilaku sebelumnya, maka itulah yang disebut belajar, ada perubahan yang terjadi.

Beberapa indikator anak yang ‘good behavior’ di sekolah adalah sebagai berikut :
·         Aktif dalam kegiatan belajar mengajar
·         Memperhatikan pengajar ketika menjelaskan di dalam kelas
·         Tidak membuat keributan pada saat kegiatan belajar mengajar
·         Tidak melanggar ketentuan aturan dan norma yang berlaku di sekolahnya
·         Disiplin pada tata tertib sekolah


Sekelumit penjabaran ukuran lain masih banyak lagi ditemukan berdasarkan case study analysis, tapi kami memberikan batasan bahwa yang menjadi indikator utama anak yang memiliki ‘good behavior’ adalah yang tercantum di atas.

Lantas, bagaimana dengan Miss behavior?

Apakah miss behavior itu?
Miss behavior adalah perilaku yang menyimpang yang terjadi pada anak sekolahan, baik sekolah dasar, sekolah lanjutan, sekolah menegah, ataupun mahasiswa perguruan tinggi. Underlined disini adalah perilaku menyimpang.

Apakah perilaku menyimpang tersebut?
Perilaku menyimpang pada umumnya dijelaskan para ahli sebagai perilaku yang berbeda dengan perilaku pada umumnya. Berbeda dari segi psikososial dan behavior yang tercermin dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat, sekolah pada umumnya karena artikel kasus di atas  mengenai kasus yang banyak dan dapat dikatakan semua sekolah mempunyai problem yang sama.

Beberapa indikator miss behavior?
·         Anak melanggar ketentuan, aturan, norma, dan tata tertib sekolah
·         Tidak disiplin
·         Membuat keributan di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar
·         Tak acuh pada guru pengajar
·         Bertengkar dengan teman-temannya
Dari kutipan artikel di sini bahwa miss behavior yang paling sering terjadi adalah perkelahian, keributan di kelas, menggosip bersama teman ketika kegiatan belajar mengajar di kelas, telat datang ke sekolah, merokok, piercing, tato, bolos sekolah, narkoba, ataupun pornografi.

Nah, yang menjadi masalah sekarang dan menjadi blocked point seperti tertera pada akhir artikel yaitu kata terakhir dari artikel itu ---> “” Sekali lagi, perilaku “menyimpang” anak di sekolah mesti disikapi secara kritis pada jaman ini, setujukah anda? “”

Ketika disodorkan sebuah pertanyaan tersebut yang menjadi ulasan kami itu, tentulah kami menyetujui bahwa miss behavior harus disikapi dengan serius, dengan kritis dan benar-benar sehingga apa yang menjadi trouble maker pada sekolah dapat diatasi, dapat diminimalkan dengan adanya modifikasi perilaku agar dapat menjadi good behavior.

Apa yang harus dilakukan?
Artikel di atas telah menjelaskan mengenai solusi dan strategi bagaimana menangani anak yang bermasalah, dan bagaimana mendorong sikap disiplin anak. Segelintir solusi telah diungkapkan penulis bagaimana menyikapinya. Namun, kami belum puas apabila belum memberikan kontribusi yang berarti dalam critical review ini? Bagaimana peran psikologi pendidikan yang telah kami pelajari di bangku kuliah semester 3 ini dapat memberikan applied nyata pada kasus tersebut, lebih kami kerucutkan lagi, bagaimana peranan dan teaching strategies untuk pengajar, guru BP/BK (bimbingan penyuluhan dan konseling), dan peran serta orang tua anak didik tersebut dari sudut pandang teori belajar dan tingkah laku (behavioristik)?

Dari orientasi artikel kasus di atas, terlihat bahwa seorang anak menceritakan pengalaman ‘tidak nyaman’nya di kelas ketika dia yang mau konsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan oleh pengajarnya dengan bersamaannya terjadi keributan yang mengganggu. Namun apa yang didapatkan sang anak? Guru malah memarahinya dan menyuruh keluar kelas, tidak mengizinkan masuk ke kelas, meminta agar anak tersebut minta maaf, dan memanggil orang tua anak didik tersebut.

Apakah sikap guru tersebut benar?
Bagaimana kita menyikapinya?
Dapat dilihat dan diamati serta dianalisis disini bahwa seorang anak itu memerlukan teman curhat untuk berbagi keluh kesahnya. Apabila tidak mendapatkan sosok teman curhat di sekolah anak akan curhat dengan orang tuanya, apabila kembali tidak mendapatkan sosok tersebut anak akan curhat pada temannya. Jadi harus ada dukungan dan peran serta sosial agar anak menjadi good behavior-nya.

Lantas apakah cukup dengan sosok teman curhat saja, setidaknya itu adalah poin pertama yang dapat kami ambil dari artikel kasus diatas.

Sikap sang guru pada word story tersebut terlihat bahwa guru itu masih belum dapat memahami dan mengerti keadaan muridnya. Terbukti bahwa pembelajaran beliau pun belum mendapatkan perhatian khusus dari anak didik, ada anak didik yang ribut, saling mengosip, lempar kertas, dan lain-lain. Jadi satu hal yang menjadi pertanyaan besar, guru tersebut hanya mengajar saja kah? Hanya menyampaikan materi tanpa harus mengetahui anak didiknya paham atau tidak? Suatu kesalahan yang fatal, apabila seorang guru pengajar hanya mempunyai nilai pemahaman bahwa seorang guru seperti itu.

Mengapa sang guru tersebut bersikap “menang sendiri” — meyakini bahwa apa yang dia pikirkan dan yakini adalah sebuah kebenaran mutlak. Parker J. Palmer (1998) mengingatkan bahwa salah satu kesulitan paling besar bagi guru untuk memainkan peran utama sebagai pendidik adalah kecenderungan untuk berpikir “either-or”, atau dalam konteks polaritas hitam-putih. Sang guru adalah produk masa lalu dari keluarganya, mengalami proses pendidikan selama bertahun-tahun, dan berinteraksi dengan beragam orang. Berbagai pengalaman macam itu berpadu dan membentuk struktur pengetahuan yang menjadi ideologi — tatanan nilai yang diakui kebenarannya. Persoalannya adalah ketika sang guru tidak tumbuh dalam kultur reflektif — yang mengamini kebenaran tunggal sebagai hal mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Ketika dihadapkan dengan perspektif berbeda dia akan memberontak. Guru macam ini bukan berarti tidak pandai. Tetapi sikapnya terhadap realitas hidup yang kompleks bisa jadi sangat kaku dan telah memfosil.

Terlihat juga bagaimana guru tersebut tanpa mendengarkan dan menerima penjelasan dari murid langsung bersikap menyuruh anak tersebut keluar, meminta agar memohon maaf dan memangil orang tuanya, apakah itu solusi menangani anak yang miss?


Jadi bagaimana solusinya?
Pemahaman pada anak didik adalah poin utama, bagaimana memaknai keadaan anak didik, mengoptimalkan pemahamannya dan mengerti akan situasi yang terjadi, seorang guru pengajar harus mempunyai strategi tertentu agar ia dapat lebih mengenal dan dapat mengidentifikasikan keadaan anak didik.

Maka dari itu kami mengidentifikasikan bagaimana indikator dari perilaku miss dan good.
Kemudian, apa yang harus dilakukan agar perilaku good tetaplah good behavior-nya dan perilaku miss menjadi good?

1.      Guru dan orang terdekat khususnya di sekolah dapat mengidentifikasi perilaku pada anak didik tersebut, sehingga dalam modifikasi perilaku guru dapat memberikan reinforcer yang tepat pada murid tersebut.
2.      Memberikan indikator perilaku apa yang ingin dicapai dan ditargetkan.
3.      Memberikan reinforcer dan punishment yang tepat dengan kriteria yang telah ditentukan.
4.      Mengobservasi dan terus memantau perkembangan dari anak didik tersebut.
5.      Apabila telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan dalam modifikasi tersebut, maka guru dapat mengurangi reinforcer-nya.

Jadi, titik sentral untuk perbaikan perilaku tersebut ada dipundak guru pengajar ketika di sekolahnya, namun tetap dengan pemantauan dan pengawasan dari orang tua selaku wali murid dari anak didik tersebut, sehingga problem yang menjadi trouble maker itu dapat diminimalkan.
Menyinggung mengenai reinforcer yang tertulis pada solusi mengatasi anak bermasalah, reinforcer itu adalah suatu program yang  tepat dilakukan oleh guru pengajar kepada anak didiknya, sehingga motivasi untuk berperilaku baik (good behavior) tertanam padanya. Namun, harus diperhatikan, bahwa reinforcement yang diberikan harus sesuai dan mendukung pada perilakunya yang baik. Sehingga tidak menanamkan sikap yang akan menjadi ‘habit’ pada anak didik tersebut.
Pengaruh pemberian reinforcement pada anak didik sudah dapat dibuktikan pada penelitian sebelumnya, yang mana signifikan dapat mempengaruhi perilakunya. Anak didik akan merasa bahwa dia dihargai akan apa yang dia lakukan dan menjadi sadar bahwa perilaku miss yang ditimbulkan hanya berdampak negatif saja.


 




Read More..

“Good Behavior” dan “Misbehavior”, Apa Ukurannya?


Belum ada jam 8.00 pagi waktu itu. Ketika seorang anak tertunduk, dengan wajah agak “merah”, dan nampak lesu, tiba-tiba saja sudah berdiri di depan meja saya. Saya cukup kaget dibuatnya. Setelah duduk, anak itu mencoba menceritakan pengalamannya.
Saat itu sedang pelajaran fisika. Situasi kelas di deretan bangku belakang agak gaduh. Beberapa anak saling berbisik sana sini bercerita tentang liga Inggris yang ditontonnya semalam. Sebagian saling melempar kertas, entah apa isinya. Sementara itu, pak guru masih asyik mencatat sesuatu di papan. Ia mencoba merapat ke bangku depan. Ia berharap akan lebih jelas melihat tulisan sang guru di papan, sekaligus terhindar dari dari gangguan”suara-suara” temannya yang asyik ngobrol di belakang.
Namun hari itu “untung” belum di pihaknya. Guru mendapatinya tengah “jalan-jalan” dan spontan menegurnya dengan “keras”. Ia mencoba menjelaskan masalahnya, sambil menatap wajah sang guru. Bukan pengertian yang diterimannya, justru umpatan dianggap tidak tahu sopan-santun karena “memelototi” sang guru.
Diusirnya anak itu keluar kelas. Sambil diberi litani tak diijinkan masuk kelas sekiranya anak itu belum meminta maaf, dan orang tua “menghadap” guru itu di sekolah. Malang nian anak itu.
Wooow. “Mimpi apa semalam” pikir saya. Selesai mendengar cerita anak itu. Karena “kedisiplinan” sekolah merupakan salah satu tanggungjawab yang diberikan kepada saya, saya mencoba menikmati “durian runtuh” ini. Lama saya termenung mendengar cerita anak itu, sambil berpikir mencari saat yang tepat untuk mencoba berbicara dan mendengar bagaimana situasi sebenarnya menurut versi sang guru.
Perilaku anak itu tadi adalah satu contoh yang kadang dikelompokkan sebagai tindakan “melanggar” tata tertib sekolah. Anak-anak ini adalah “sumber masalah” atau trouble maker bagi guru.
Contoh lain misalnya, siswa merokok di sekolah, sementara aturan sekolah melarangnya. Melakukan perkelahian, menggunakan narkoba, atau terlibat pornografi di sekolah.
Dalam bentuk yang lain bisa muncul seperti membolos, mencuri, atau merusak barang milik sekolah. Juga menyontek saat ujian. Beberapa sekolah menerapkan aturan tidak boleh mengecat rambut, rambut panjang, menato badan, tindik telinga atau bagian tubuh lain. Atau tidak mengerjakan / mengumpulkan pekerjaan rumah. Salah memakai seragam, dan berpakaian “seenaknya” dan sederetan perilaku negatif lain biasanya disebut perilaku menyimpang (misbehavior). Sebuah perilaku yang bertentangan atau tidak sejalan dengan tata tertib atau rule of the game sekolah diasosiasikan sebagai misbehavior.
Sementara setiap aktifitas di sekolah yang sesuai dengan norma-norma umum dan tata tertib sekolah serta berlawanan dengan misbehavior tadi disebut sebagai perilaku baik (good behavior), dan biasanya itu menyenangkan hati sang guru.
Bagaimana mendorong sikap disiplin anak?
Sikap disiplin dan perilaku baik seorang anak dapat dikembangkan melalui beragam strategi dan aktifitas. Bear, G.G & Duquette, J.F (2008), dalam tulisannya yang berjudul “Fostering Self-Discipline” yang dimuat di majalah Principal Leadership edisi bulan oktober menyebutkan beberapa hal perlu diperhatikan untuk mengembangkan sikap disiplin diri anak di sekolah.
Pertama, perlu dikedepankan sikap peduli, hormat dan mendukung. Mengembangkan sikap hormat dan bersahabat dengan setiap anak tanpa padang bulu akan membuat anak yang membuat kesalahan cepat belajar dari kesalahannya. Sikap itu akan membuat anak merasa lebih dihargai dan diterima meskipun ia bersalah.
Kedua, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan. Riset menunjukkan bahwa sekolah yang memiliki tingkat pelanggaran kedisiplinan yang rendah lebih disebabkan karena anak merasa bahwa aturan main di sekolahnya jelas, adil, dan tidak “keras”. Dengan terlibat dalam pengambilan keputusan, anak akan memiliki ownership yang lebih, dia merasa juga perlu ikut bertanggungjawab “menegakkan” aturan itu (Arum, 2003).
Ketiga, melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan sekolah. Keterlibatan orang tua diperlukan agar terjadi keseimbangan antara kebiasaan dan norma perilaku yang diterima di sekolah dengan apa yang dilakukan orang tua di rumah. Seberapa besarnya upaya penanaman nilai dilakukan di sekolah, tidak akan banyak artinya ketika semua itu di-“negasi” oleh perilaku orang tua di rumah.
Keempat, mengajarkan anak masalah sosial dan moral yang relevan bagi mereka. Menggunakan berbagai kesempatan untuk melatih anak memiliki ketrampilan pemecahan masalah berbagai isu social dan moral. Tema-tema “sex bebas”, pengguguran, merokok, drug, dsb dapat dipergunakan untuk mengasah ketajaman anak dalam melewati tahapan perkembangan kepribadiannya.
Kelima, menyadari bahwa setiap anak berbeda. Setiap anak perlu diakui bahwa mereka memiliki kepribadian dan temperamen yang berbeda. Disiplin sekolah perlu mengakomodasi dan tidak memperlakukan mereka sebagai “barang” yang sama.
Keenam, berikan penghargaan dan pujian. Memberikan feedback yang positif dalam bentuk pujian dan penghargaan yang tepat dan proporsinal, dalam banyak hal akan lebih efektif daripada “kontrol” yang berlebihan kepada anak. Misalnya, “minggu ini tidak ada pekerjaan rumah buat kalian, karena kita sudah bekerja keras minggu ini” akan lebih baik daripada mengatakan “kalau kamu menaati peraturan sekolah, tidak ada pekerjaan rumah buat kalian minggu depan”.
Ketujuh, mereka adalah remaja. Menyadari mereka adalah remaja adalah penting artinya buat mereka. Guru tidak bisa memperlakukan mereka sebagai orang dewasa “kecil”. Mendengarkan dan menjadi pendorong mereka atas segala kesulitan dan masalah pribadinya, akan lebih bermakna bagi perkembangan diri mereka.
Strategi menangani anak “bermasalah”
Bagaimana pun menangani mereka yang bermasalah memerlukan ketrampilan dan energi tersendiri. Bear dan Duquette memberikan beberapa resep praktis bagaimana guru menangani anak “bermasalah”.
Bersikap tenang, tegas, dan adil. Guru harus menunjukkan sikap dan perhatian yang adil pada anak. Ia tidak perlu larut dalam kemarahan. Fokusnya adalah pada “perilaku” anak yang dianggap salah, dan bukan cepat membuat penilaian (judgment) bahwa anak tersebut “jahat” dan “salah”.
Melihat masalah sebagai kesempatan untuk belajar. Guru harus belajar dari setiap masalah yang dihadapinya. Menunjukkan kepada anak, bahwa ia dan anak itu bisa bersalah, namun yang penting bagaimana memperbaikinya ke depan. Anak itu bersalah, namun dia bisa belajar dari kesalahannya.
Fokus pada dampak perilaku anak bagi orang lain. Setiap perilaku anak yang “bermasalah” biasanya menjadikan dirinya ukuran segalannya. Maka kepada anak itu perlu diajak merefleksikan perbuatannya bagi orang lain. Bagaimana sikap dan perasaaan orang lain di sekitarnya, misalnya teman sekelas atau perasaan orang tuanya.
Mempertimbangkan “alasan” dan memperbaiki cara berpikir. Setiap alasan di balik setiap penyimpangan perilaku anak perlu di perhatikan oleh guru. Ketika itu dilewati, dan sekedar anak diajak berubah hanya atas dogma “taat”, sebenarnya guru tidak berhasil mengubah cara berpikir dan bersikap yang salah pada diri anak tersebut.
Berikan hukuman secara berjenjang dan melalui beragam bentuk. Bagian terakhir adalah hukuman. Bagian ini pun sebisa mungkin dilakukan dalam bentuk yang bervariasi, agar karakteristik anak tetap dihargai dan tujuan pemberian hukuman itu pun tercapai. Hukuman yang tidak kreatif, hanya bersifat fisik misaknya, tidak memberikan efek positif sebagaiman diharapkan.
Akhirnya perlu digarisbawahi, terkadang tidak mudah menilai perlaku “menyimpang” pada anak. Perilaku “’kreatif” dan “menyimpang” tidak jarang saling beririsan. Apa yang kita pikirkan ketika anak di sekolah membara “barang” yang bentuknya seperti alat kelamin pria, misalnya? Kita berasumsi anak itu dengan pasal “pornografi”, padahal mungkin anak itu sedang merefleksikan bagaiman pentingnya organ itu bagi kehidupan seorang pria.
Sekali lagi, perilaku “menyimpang” anak di sekolah mesti disikapi secara kritis pada jaman ini, setujukah anda?




Referensi :
Wibowo, Thomas. 28 Februari 2009. Good Behavior dan Misbehavior, Apa Ukurannya? www. kompas.com. diakses 27 September 2009. Online.


****
Artikel ini digunakan untuk melakukan tugas critical review yang akan dibahas pada entry selanjutnya...
Read More..