Jumat, 12 April 2013

Perkembangan Perilaku Remaja Pada Masa Pubertas


PERKEMBANGAN PERILAKU REMAJA PADA MASA PUBERTAS
Asmiani Fawziah, Bela Itri Agriani, Istianah, Nofitri Annu Radha, Yohana Linda P.
Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran
Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

ABSTRAK
Masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan  stress  (Storm  and  Stress). Karena  mereka  telah  memiliki keinginan  bebas  untuk  menentukan  nasib  sendiri,  kalau  terarah  dengan baik  maka  ia  akan  menjadi  seorang  individu  yang  memiliki  rasa tanggungjawab,  tetapi kalau  tidak  terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik. Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Pubertas  adalah  masa  ketika  seorang  anak  mengalami  perubahan  fisik, psikis,  dan  pematangan  fungsi  seksual.  Masa  pubertas  dalam  kehidupan  kita biasanya dimulai  saat berumur delapan hingga  sepuluh  tahun dan berakhir  lebih kurang  di  usia  15  hingga  16  tahun. Perkembangan perilaku remaja pada masa pubertas ditandai dengan perubahan-perubahan akibat pubertas yaitu perubahan pada perkembangan perilaku kognitif, sosioemosional, dan seksual.
Kata kunci : perilaku, remaja, pubertas
PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan  stress  (Storm  and  Stress). Karena  mereka  telah  memiliki keinginan  bebas  untuk  menentukan  nasib  sendiri,  kalau  terarah  dengan baik  maka  ia  akan  menjadi  seorang  individu  yang  memiliki  rasa tanggungjawab,  tetapi kalau  tidak  terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik.
Perilaku remaja terdiri dari perilaku kognitif, sosioemosional, dan seksual. Perilaku kognitif merupakan suatu perilaku remaja yang ditandai dengan bagaimana pola berpikir dari remaja itu. Sedangkan perilaku sosioemosianal merupakan suatu perilaku yang erat kaitannya dengan emosi remaja dan bagaimana remaja berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Dan perilaku seksual yakni suatu perilaku yang berkaitan erat dengan bagaimana remaja tersebut berpacaran. Perilaku-perilaku tersebut tentunya berkaitan erat dengan masa pubertas. Dimana masa tersebut merupakan masa tumbuh kembang yang dialami oleh semua remaja.
Pada  masa  ini  memang  pertumbuhan  dan perkembangan berlangsung dengan  cepat. Itu dinamakan masa pubertas. Pada  perempuan pubertas ditandai  dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Kini,  dikenal  adanya  pubertas  dini  pada  remaja.  Penyebab  pubertas  dini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang mirip dengan hormon  estrogen.  Hormon  ini  diketahui  sangat  berperan  dalam  mengatur perkembangan seks wanita.
Pada masa pubertas itulah perkembangan remaja perlu adanya pengontrolan diri dari orang tua, masyarakat dilingkungan dimana mereka berada. Karena pada masa itu remaja merasa semakin mampu dalam pengambilan keputusan. Remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan disbanding remaja yang lebih muda, dimana mereka lebih kompeten daripada anak-anak. Kemampuan untuk mengambil keputusan tidak menjamin kemampuan itu diterapkan, karena dalam kehidupan nyata, luasnya pengalaman adalah penting. Remaja perlu lebih banyak peluang untuk mempraktekkan dan mendiskusikan keputusan realistis. Dalam beberapa hal, kesalahan pengambilan keputusan pada remaja mungkin terjadi ketika dalam realitas yang menjadi masalah adalah prientasi masyarakat terhadap remaja dan kegagalan untu member mereka pilihan-pilihan yang memadai.   Untuk itu sebagao orang tua, dan masyarakat harus mengenal remaja itu pada tingkat perkembangan dalam masa pubertasnya.
MASA REMAJA
Pengertian Masa Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”.
a)      Menurut Stanley Hall (1) Masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan  stress  (Storm  and  Stress). Karena  mereka  telah  memiliki keinginan  bebas  untuk  menentukan  nasib  sendiri,  kalau  terarah  dengan baik  maka  ia  akan  menjadi  seorang  individu  yang  memiliki  rasa tanggungjawab,  tetapi kalau  tidak  terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik.
b)      Menurut  Stanley  Hall  (2)  usia  remaja  antara  12 sampai usia 23 tahun.
c)      Menurut  Erikson (3)  masa  remaja  adalah  masa  yang  akan  melalui  krisis  dimana  remaja  berusaha  untuk  mencari  identitas  diri  (Search  for  self  - Identity).
d)     Menurut Piaget (4), masa remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
e)      WHO (5) mendefinisikan masa remaja merupakan periode perkembangan antara pubertas, perlihan biologis masa anak-anak  dan masa dewasa, yaitu antara umur 10-20 tahun.
Ciri-Ciri Masa Remaja
            Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai cirri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut diantaranya adalah :
a.       Masa remaja sebagai periode yang penting
b.      Masa remaja sebagai periode peralihan
c.       Masa remaja sebagai periode perubahan
d.      Masa remaja sebagai usia bermasalah
e.       Masa remaja sebagai masa mencari identitas
f.       Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
g.      Masa remaja sebagai masa yang tidak realistic
h.      Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
Ciri – Ciri Khusus Masa Remaja (6 )
a.       ertumbuhan fisik yang sangat cepat
b.      Emosinya yang tidak stabil
c.       Perkembangan seksual sangat menonjol
d.      Cara berpikirnya bersifat kausalitas ( hukum     sebab akibat )
e.       Terikat erat dengan kelompoknya
MASA PUBERTAS
Pengertian Pubertas
Pubertas  adalah  masa  ketika  seorang  anak  mengalami  perubahan  fisik, psikis,  dan  pematangan  fungsi  seksual.  Masa  pubertas  dalam  kehidupan  kita biasanya dimulai  saat berumur delapan hingga  sepuluh  tahun dan berakhir  lebih kurang  di  usia  15  hingga  16  tahun.  Pada  masa  ini  memang  pertumbuhan  dan perkembangan berlangsung dengan  cepat. Pada  perempuan pubertas ditandai  dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah  ( 7 ).
Pada  saat  seorang  anak memasuki masa  pubertas  yang  ditandai  dengan menstruasi  pertama  pada  remaja  putri  atau  pun  perubahan  suara  pada  remaja putra,  secara  biologis  dia  mengalami  perubahan  yang  sangat  besar.    Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi. Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua  jenis  hormon  (gonadotrophins  atau  gonadotrophic  hormones)  yang berhubungan  dengan  pertumbuhan,  yaitu:  1)  Follicle-Stimulating  Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH).  Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang  pertumbuhan  estrogen  dan  progesterone:  dua  jenis  hormon kewanitaan.    Pada  anak  lelaki,  Luteinizing  Hormone  yang  juga  dinamakan Interstitial-Cell  Stimulating  Hormone  (ICSH)  merangsang  pertumbuhan testosterone.      Pertumbuhan  secara  cepat  dari  hormon-hormon  tersebut  di  atas merubah  sistem  biologis  seorang  anak.  Anak  perempuan  akan  mendapat menstruasi,  sebagai pertanda bahwa  sistem  reproduksinya  sudah aktif. Selain  itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll.  Anak lelaki mulai  memperlihatkan  perubahan  dalam  suara,  otot,  dan  fisik  lainnya  yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone.   Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.    
Karakteristik anak puber antara lain: merasa diri sudah dewasa sehingga anak sering membantah atau menentang, emosi tidak stabil sehingga anak puber cenderung merasa sedih, marah, gelisah, khawatir, mengatur dirinya sendiri sehingga terkesan egois, dan sangat mengutamakan kepentingan kelompok atau genk sehingga mudah terpengaruh oleh teman sekelompoknya. Anak mudah terpengaruh oleh lingkungan dan budaya baru yang sering bertentangan dengan norma masyarakat, serta memiliki rasa keingitahuan yang besar pada hal-hal baru yang mengakibatkan perilaku coba-coba tanpa didasari dengan informasi yang benar dan jelas (8). 
Ciri-Ciri Masa Pubertas
  1. Periode tumpang tindih
  2. Periode yang singkat
  3. Masa puber dibagi dalam tahap-tahap
  4. Masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat
  5. Masa negatif
  6. Terjadi pada berbagai usia
Tahap Pubertas
  1. Tahap Pra Puber
Dalam tahap pra puber ciri-ciri seks sekunder mulai tampak tetapi organ reproduksi belum sepenuhnya berkembang.
  1. Tahap Puber
Kriteria kematangan seksual mulai muncul, terjadi haid pada anak perempuan dan pengalaman mimpi basah pada anak laki-laki. Ciri-ciri seks sekunder terus berkembang dan sel-sel diproduksi dalam organ-organ seks.
  1. Tahap Pasca Puber
Ciri-ciri seks sekunder telah berkembang baik dan organ-organ seks mulai berfungsi secara matang.
Kondisi yang Menyebabkan Perubahan Pubertas
  1. Peran Kelenjar Pituitary
Kelenjar pituitary mengeluarkan dua hormon yakni hormon pertumbuhan yang berpengaruh dalam menentukan besarnya individu dan hormon gonadotropik yang merangsang gonad untuk meningkatkan kegiatan. Dalam keadaan demikianlah perubahan-perubahan pada masa puber mulai terjadi.
  1. Peranan Gonad
Dengan pertumbuhan dan perkembangan gonad, organ seks yakni ciri seks primer bertambah besar dan fungsinya menjadi matang dan ciri seks sekunder seperti rambut kemaluan mulai berkembang.
  1. Interaksi Kelenjar Pituitary dan Gonad
Hormon yang dikeluarkan oleh gonad yang telah dirangsang oleh hormon gonadotropik yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary bereaksi terhadap kelenjar ini dan menyebabkan penurunan jumlah hormon pertumbuhan secara berangsur-angsur dan sehingga menghentikan proses pertumbuhan. Interaksi anatar hormon gonadotropik dan gonad berlangsung terus sepanjang kehidupan reproduksi individu dan berkurang menjelang wanita mendekati menopause dan pria mendekati klimakteric.
Ciri Seks Primer
1.      Ciri Seks Primer pada Laki-Laki
Gonad atau testis yang terletak pada scrotum pada usia 14 tahun baru sekitar 10 persen dari  ukuran matang. Kemudian terjadi pertumbuhan pesat selama satu atau dua tahun setelah itu pertumbuhannya menurun. Testis sudah berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Setelah pertumbuhan testis meningkat maka pertumbuhan penis meningkat pesat. Yang mula-mula meningkat adalah panjangnya kemudian berangsur-angsur dengan besarnya. Kalau fungsi organ reproduksi pria sudah matang maka biasanya mulai terjadi mimpi basah. 
2.      Ciri Seks Primer pada Wanita 
Berat uterus anak usia 11 atau 12 tahun berkisar 5,3 gram. Pada usia 16 tahun rata-rata beratnya 43 gram. Tuba falopi, telur-telur dan vagina juga tumbuh pesat pada saat ini. Petunujuk pertama bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi matang adalah datangnya haid.
Ciri Seks Sekunder
  1. Ciri Seks Sekunder pada Laki-Laki
a.       Tumbuhnya rambut kemaluan setelah testis dan penis mulai membesar. Kemudian setelah pertumbuhan rambut kemaluan hampir selesai timbullah rambut ketiak dan rambut di wajah.
b.      Kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnanya pucat dan pori-pori meluas.
c.       Kelenjar lemak semakin membesar dan menjadi lebh aktif sehingga dapat menimbulakan jerawat. Kelenjar keringat di ketiak mulai berfungsi dan keringat bertambah banyak.
d.      Otot bertambah besar dan kuat sehingga member bentuk bagi lengan, tungkai kaki dan bahu.
e.       Suara berubah menjadi serak.
f.       Benjolan kecil di sekitar susu pria mulai timbul. Ini berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian menurun baik jumlahnya maupun besarnya.
  1. Ciri Seks Sekunder pada Perempuan
a.       Pinggul menjadi bertambah lebar dan bulat sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit.
b.      Payudara muali berkembang, putting susu membesar dan menonjol, dan dengan berkembangnya kelenjar susu payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat.
c.       Rambut kemaluan timbul. Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah mulai tampak.
d.      Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat, dan lubang pori-pori bertambah besar.
e.       Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. Sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat di ketiak mengelurkan banyak keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama masa haid.
f.       Otot semakin besar dan semakin kuat sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan tungkai kaki.
g.      Suara menjadi lebih penuh dan semakin merdu. (9)
PERKEMBANGAN PERILAKU  REMAJA
            Perkembangan perilaku remaja pada masa pubertas ditandai dengan perubahan-perubahan akibat pubertas yaitu sebagai berikut :
1.      Perkembangan Perilaku Kognitif Remaja
Perkembangan  kognitif  remaja,  dalam  pandangan  Jean  Piaget  (seorang ahli  perkembangan  kognitif)  merupakan  periode  terakhir  dan  tertinggi  dalam tahap pertumbuhan operasi  formal  (period of  formal operations).     Pada periode ini,  idealnya  para  remaja  sudah  memiliki  pola  pikir  sendiri  dalam  usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak.  Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian  rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan  banyak  alternatif  pemecahan  masalah  beserta  kemungkinan akibat  atau  hasilnya.    Kapasitas  berpikir  secara  logis  dan  abstrak  mereka berkembang  sehingga  mereka  mampu  berpikir  multi-dimensi  seperti  ilmuwan. 
Para  remaja  tidak  lagi  menerima  informasi  apa  adanya,  tetapi  mereka  akan memproses  informasi  itu  serta  mengadaptasikannya  dengan  pemikiran  mereka sendiri.    Mereka  juga  mampu  mengintegrasikan  pengalaman  masa  lalu  dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan  rencana untuk masa  depan.  Dengan  kemampuan  operasional  formal  ini,  para  remaja  mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka. 
Masa remaja ialah masa semakin meningkatnya pengambilan keputusan. Remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan disbanding remaja yang lebih muda, dimana mereka lebih kompeten daripada anak-anak. Kemampuan untuk mengambil keputusan tidak menjamin kemampuan itu diterapkan, karena dalam kehidupan nyata, luasnya pengalaman adalah penting. Remaja perlu lebih banyak peluang untuk mempraktekkan dan mendiskusikan keputusan realistis. Dalam beberapa hal, kesalahan pengambilan keputusan pada remaja mungkin terjadi ketika dalam realitas yang menjadi masalah adalah prientasi masyarakat terhadap remaja dan kegagalan untu member mereka pilihan-pilihan yang memadai (10).  
2.      Perkembangan Perilaku Sosioemosional Remaja
Masa  remaja merupakan masa yang   penuh gejolak. Pada masa  ini mood  (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini  seringkali dikarenakan beban pekerjaan  rumah, pekerjaan  sekolah, atau kegiatan  sehari-hari  di  rumah.  Meski  mood  remaja  yang  mudah  berubah-ubah  dengan  cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.
Dalam  hal  kesadaran  diri,  pada    masa  remaja  para  remaja  mengalami  perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness).   Mereka  sangat  rentan  terhadap  pendapat  orang  lain  karena mereka menganggap  bahwa  orang  lain  sangat  mengagumi  atau  selalu  mengkritik  mereka  seperti  mereka  mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri.   Anggapan  itu membuat  remaja  sangat  memperhatikan  diri  mereka  dan  citra  yang  direfleksikan  (self-image).
Remaja  cenderung  untuk  menganggap  diri  mereka  sangat  unik  dan  bahkan percaya   keunikan mereka  akan  berakhir  dengan  kesuksesan  dan  ketenaran.   Remaja  putri  akan  bersolek  berjam-jam  di  hadapan  cermin  karena  ia  percaya  orang  akan melirik  dan  tertarik  pada  kecantikannya,  sedang  remaja  putra  akan  membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. 
Para remaja  juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga  seringkali  mereka  terlihat  “tidak  memikirkan  akibat”  dari  perbuatan  mereka.   Tindakan  impulsif  sering  dilakukan;  sebagian  karena  mereka  tidak  sadar  dan  belum  biasa  memperhitungkan  akibat  jangka  pendek  atau  jangka  panjang. 
Remaja  yang  diberi  kesempatan  untuk  mempertangung-jawabkan  perbuatan  mereka,  akan  tumbuh  menjadi  orang  dewasa  yang  lebih  berhati-hati,  lebih  percaya-diri,  dan  mampu  bertanggung-jawab.    Rasa  percaya  diri  dan  rasa  tanggung-jawab  inilah  yang  sangat  dibutuhkan  sebagai  dasar  pembentukan  jati- diri positif pada remaja.  Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri  sendiri dan rasa hormat pada orang  lain dan  lingkungan.   Bimbingan orang yang  lebih  tua  sangat  dibutuhkan  oleh  remaja  sebagai  acuan  bagaimana menghadapi  masalah  itu  sebagai  “seseorang  yang  baru”;  berbagai  nasihat  dan  berbagai  cara  akan  dicari  untuk  dicobanya. 
Dapat dimengerti bahwa akibat yang luas dari masa puber pada keadaan fisik remaja juga memperngaruhi sikap dan perilaku. Namun ada bukti yang menunjukkan bahwa perubahan dalam sikap dan perilaku yang terjadi pada saat ini lebih merupakan akibat dari perubahan sosial daripada akibat perubahan kelenjar yang berpengaruh pada keseimbangan tubuh. Semakin sedikit simpati dan pengertian yang diterima remaja puber dari orang tua, kakak-adik, guru-guru, dan teman-teman dan semakin besar harapan-harapan social pada periode ini, semakin besar akibat psikologis dari perubahan-perubahan fisik.
Pada umumnya pengaruh masa puber lebih banyak pada remaja perempuan daripada remaja laki-laki, sebagian disebabkan karena remaja perempuan biasanya lebih cepat matang daripada remaja laki-laki dan sebagian karena banyak hambatan-hambatan social mulai ditekankan pada perilaku remaja perempuan justru pada saat remaja perempuan mencoba untuk membebaskan diri dari berbagai pembatasan. More membahas sebab-sebab mengapa remaja laki-laki tidak banyak berpengaruh oleh perubahan-perubahan masa puber seperti halnya remaja perempuan:
Masa puber rupanya lebih merupakan kejadian yang berlangsung secara bertahap. Tidak terjadi secara serentak dengan kepesatan perkembangan seperti yang dialami remaja perempuan. Rangsangan yang ditimbulkan sama kuatnya atau lebih kuat bagi pria namun ia mempunyai kesempatan lebih akrab untuk menyesuaikan dirinya.
Karena mencapai masa puber lebih dulu, remaja perempuan lebih cepat menunjukkan tanda-tanda perilaku yang mengganggu daripada remaja laki-laki. Tetapi perilaku remaja perempuan lebih cepat stabil daripada remaja laki-laki, dan remaja perempuan mulai berperilaku seperti sebelum masa puber.
Seberapa serius perubahan masa puber akan mempengaruhi perilaku sebagian besar bergantung pada kemampuan dan kemauan remaja puber untuk mengungkapkan keprihatinan dan kecemasannya kepada orang lain sehingga dengan begitu ia dapat memperoleh pandangan yang baru dan yang lebih baik. Seperti yang dijelaskan Dunbar, “Reaksi efektif terhadap perubahan terutama ditentukan oleh kemampuan untuk berkomunikasi…. Komunikasi adalah cara untuk mengatasi kecemasan yang selalu disertai tekanan”. Remaja yang merasa sulit atau tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain lebih banyak berperilaku negatif daripada remaja yang mampu dan mau berkomunikasi (11)
Akibat perubahan masa puber pada sikap dan perilaku remaja adalah sebagai berikut (12) :
1.      Ingin Menyendiri
Kalau perubahan pada masa puber mulai terjadi, remaja biasanya menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga dan sering bertengkar pada teman-teman dan pada anggota keluarga. Remaja puber kerap melamun, sering tidak dimengerti dan diperlakukan dengan kurang baik, dan ia juga mengadakan ekperimen seks melalui masturbasi. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang-orang lain. Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari milieu orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya. Erikson menyebutnya untuk menemukan identitas diri (13)
2.      Bosan
Remaja puber bosan dengan permainan yang sebelumnya amat digemari, tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial, dan kehidupan pada umumnya. Akibatnya, remaja sedikit sekali bekerja sehingga prestasinya diberbagai bidang menurun. Remaja menjadi terbiasa untuk tidak mau berprestasi khususnya karena sering timbul perasaan akan keadaan fisik yang tidak normal.
3.      Inkoordinasi
Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi gerakan, dan remaja akan merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu. Setelah pertumbuhan melambat, koordinasi akan membaik secara bertahap.
4.      Antagonisme sosial
Remaja puber seringkali tidak mau bekerja sama, sering membantah, dan menentang. Permusuhan terbuka anatara dua seks yang berlainan diungkapkan dalam kritik, dan komentar-komentar yang merendahkan. Dengan berlanjutnya masa puber, remaja kemudian menjadi lebih ramah, lebih dapat bekerja sama dan lebih sabar kepada orang lain.
5.      Emosi yang meninggi
Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian awal masa puber. Pada masa ini remaja merasa khawatir, gelisah, dan cepat marah. Sedih, mudah marah, dan suasana hati yang negative sangat sering terjadi selama masa prahaid dan awal periode haid. Dengan semakin matangnya keadaan fisik remaja, ketegangan lambat laun berkurang dan remaja sudah mulai mampu mengendalikan emosinya.
6.      Hilangnya kepercayaan diri
Remaja yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri sekaran menjadi kurang percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun dank arena kritik yang bertubi-tubi datang dari orang tua dan teman-temannya. Banyak remaja laki-laki dan perempuan setelah masa puber mempunyai perasaan rendah diri.
7.      Terlalu sederhana
Perubahan tubuh yang terjadi selama masa puber menyebabkan remaja menjadi sangat sederhana dalam segala penampilannya karena takut orang-orang lain akan memperhatikan perubahan yang dialaminya dan member komentar yang buruk.
3.      Perkembangan Perilaku Seksual Remaja
a.      Berpacaran
Berpacaran dikalangan remaja bukanlah merupakan hal yang biasa, dibuktikan dari hampir sebagian responden menyatakan bahwa mereka pernah atau sedang berpacaran. Sebagian remaja berpendapat bahwa pacaran juga memberikan dampak yang positif, misalnya terpacu untuk belajar lebih giat atau memberikan dampak negatif terhadap perilaku remaja mengarah keseksualitas. Usia pertama berpacaran berkisar 14-17 tahun. Hal ini di dukung juga dari kegiatan yang biasa dilakukan remaja ketika berpacaran adalah ngobrol, namun tak jarang juga berpacaran diselingi dengan berciuman. Mengapa remaja memilih berpacaran ? banyak faktor pendorong yang menyebabkan remaja memilih berpacaran. Dikalangan remaja muncul trend yang menyatakan bahwa jika seseorang remaja berpacaran berarti remaja tersebut modern dan tidak “kampungan”. Perkembangan terhadap informasi juga menjadi salah satu pendorong (14)
b.      Mengenal Media pornografi
Sebagian besar remaja pernah menggunakan/melihat media pornografi pada saat berusia 14-17 tahun. Pada masa tersebut merupakan masa remaja dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dan sepatutnya pada masa ini, remaja memperoleh informasi seks yang benar sehingga remaja tidak salah dalam bertingkah laku. Informasi tersebut memang sangat diperlukan oleh remaja. Informasi mengenai kesehatan reproduksi merupakan hal yang perlu diketahui bagi remaja. Lembaga pendidikan hendaknya memikirkan bagaimana agar informasi tersebut dapat diberikan melalui sekolah oleh seorang guru tau dijadikan suatu mata pelajaran penunjang byang memiliki kurikulum pelajaran.
Media yang biasa/ sering digunakan remaja yaitu foto/gambar (semakin maraknya internet sehingga remaja memanfaatkannya untuk hal yang negatif dengan mengunjungi situs-situs X yang memberikan informasi seks yang tidak terbatas), majalah dan VCD/ film (semakin banyak dan mudahnya diperoleh remaja didukung dengan harga yang relatif terjangkau).
Kebanyakan remaja menggunakanmedia pornografiu di rumah, sekolah, bioskop atau rumah teman. Remaja cenderung memilih di rumah teman, karena merasa lebih leluasa dan dapat berdiskusi bersama jika ada yang tidak dipahami. Sumber media pornografi sebagian besar diperoleh melalui teman, menyewa atau membelinya sendiri akibat dorongan rasa ingintahu yang tinggi. Keinginan tahu remaja adalah hal yang wajar, namun bagaimana mengemasnya dan cara penyampaian informasi yang tepat, gar remaja tidak salah menafsirkannya.
c.       Mengalami Masalah Masturbasi dan Hubungan seksual
Pemahaman remaja mengenai masturbasi atau onani masih sangatlah rendah. Dan dikalangan remaja berpendapat bahwa jika melakukan masturbasi atau onani berarti melakukan perbuatan yang melanggar norma. Hubungan seksual merupakan perilaku seksual yang tertinggi, karena jika remaja berani melakukan hal tersebut berarti remaja telah dan harus siap menerima segala resiko yang akan dihadapi.
Pada umumnya usia pertama kali melakukan hal tersebut berkisar 15-19 tahun. Pada masa ini memang secara fisik telah siap, namun banyak hal lain perlu diingat bahwa resikonya pun akan besar. Pacar merupakan pasangan utama melakukan hubungan seks tersebut. Hal ini berarti kondisi pacaran dapat mendorong dan merangsang untuk melakukannya. Didukung dengan pacaran yang dilakukan di rumah tanpa adanya pengawasan dari orang tua atau saudara. Alasan utama remaja melakukan hubungan seksual adalah karena cinta atau sama-sama mau, terangsang dan rasa ingin tau. Jika dilihat dari umur remaja pertama kali melakukan hubungan seksual, telah dapat tercermin bahwa memang ketiga alasan di atas lah yang mendorong seorang remaja menyerahkan kehormatannya (15 )
d.      Mengalami berbagai Permasalahan Remaja
Apabila remaja dihadapkan dalam suatu kondisi yang tidak diinginkan maka tjika terjadi kehamilan, remaja kebanyakan akan memilih akan meneruskannya dan menikah, karena menurut kalangan remaja bahwa pengguguran kandungan merupakan perbuatan yang tercela. Dan jika pun pengguguran kandungan yang dipilih maka hal tersebut akan dilakukan dengan seorang dokter kandungan.(16)
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan isi makalah, maka dapat disimpulkan bahwa  pubertas  merupakan masa pertumbuhan  tulang-tulang  dan  kematangan  seksual  yang  terjadi  pada  masa awal remaja, dimana ditandai dengan adanya menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada pria yang diikuti oleh cirri-ciri seks sekunder, seperti tumbuhnya rambut pada ketiak dan kemaluan, pinggul membesar, payudara membesar, suara berubah. Hal tersebut berdampak pada perkembangan perilaku remaja, baik secara kognitif (operasional formal), sosioemosional (ingin menyendiri, bosan, emosi meningkat), maupun seksual (berpacaran, hubungan seksual, pornografi).
Saran
Remaja memerlukan bimbingan baik dari keluarga atau lingkungannya, remaja yang mengalami masa pubertas akan terus mencari identitas diri mereka hingga mereka menemukan identitas diri mereka yang sebenarnya, pencarian identitas diri tersebut yang memerlukan bimbingan agar mereka dapat menemukan identitas diri yang sesuai dengan dirinya dan norma yang ada. Identitas diri tersebut yang nantinya akan menentukan bagaiman perilaku mereka. Pencarian identitas diri pada remaja dapat di bimbing oleh keluarga atau lingkungan, baik itu lingkungan sekolah atau lingkungan di luar sekolah. Bimbingan oleh keluarga dilakukan dengan memberitahukan batasan-batasan norma yang yang berlaku di agama ataupun masyarakat, pemberitahuan tentang norma tersebut diharapkan agar remaja dapat berprilaku sesuai dengan norma yang ada. Sedangkan bimbingan yang dilakukan di sekolah dengan cara memberikan pelajaran tentang moral, norma dan masa pubertas. Lingkungan di luar sekolah juga dapat mempengaruhi perilaku remaja, karena lingkungan yang baik tentunya juga akan memberikan contoh perilaku yang baik bagi remaja yang ada di lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
1.       No name. Definisi Remaja. 2008 ; Available from : URL:http://www.creasoft.files.wordpress.com
2.       No name. Definisi Remaja. 2008 ; Available from : URL:http://www.creasoft.files.wordpress.com
3.       No name. Definisi Remaja. 2008 ; Available from : URL:http://www.creasoft.files.wordpress.com
4.       Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga
5.      Laksmiwati, I. A. A. Transformasi Sosial dan Perilaku Reproduksi Remaja ; Available from URL:http://ejournal.unud.ac.id.
6.      Putri, R. L., Hadi, C. Bagaimana Lebih Memahami Seorang Diri Remaja ; Available from : URL:http://fpsi.unair.ac.id
7.      Maria. U. Kenakalan remaja. 2009. Available from : URL:http://www.damandiri.or.id.
8.      Noviasari, E., Saputri, K. N., Masrurroh, I. N. Mata Pelajaran Pendidikan Reproduksi Remaja dalam Kurikulum SMP untuk Menghindarkan Remaja dari Tindak Aborsi Akibat Free Seks. 2010. Available from : URL:http://kemahasiswaan.um.ac.id
9.      Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga
10.  Santrock, J. W. 2002. Life Span Development. Jakarta : Erlangga
11.  Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga
12.  Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga
13.  Monks, Knoers, Hadiyanto, S. R. 1982. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogjakarta : UGM Press.
14.  Harfina, D. S. Perilaku Seksual Remaja dan Tingkat Pendidikan. Kasus  di Kota Bengkulu dan Surabaya. Available from : URL:http://www.katalog.pdii.lipi.go.id.
15.  Papalia, D. E., Old, S. W., Feldman, R. T. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan) Bagian V s/d IX. Jakarta : Penerbit Kencana.
16.  Harfina, D. S. Perilaku Seksual Remaja dan Tingkat Pendidikan. Kasus  di Kota Bengkulu dan Surabaya. Available from : URL:http://www.katalog.pdii.lipi.go.id.



Read More..

Teori Psikoanalisis Sosial : Erich Fromm


TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL
ERICH FROMM
Biografi
Erich Fromm lahir pada tahun 1900 di Frankfurt, Jerman. Keluarga Erick Fromm adalah keluarga yang taat beragama Yahudi, setelah dewasa dia menjadi seorang mistikus yang atheis. Fromm menerima gelar Ph.D-nya dari Heidelberg tahun 1922, dan setelah itu berkarir sebagai psikoterapis. Menjelang akhir karirnya, dia pindah mengajar ke Mexico city dan melakukan berbagai penelitian tentang hubungan kelas-kelas ekonomi dengan tipe-tipe kepribadian dan meninggal pada tahun 1980 di Swiss. 


Teori
Keunikan teori Fromm terletak pada usahanya menggabungkan Freud dan Mark. Di satu sisi, Freud memfokuskan teorinya pada alam bawah sadar, kebutuhan-kebutuhan biologis, refresi dan lain sebagainya. Freud mempostulatkan bahwa karakter manusia ditentukan oleh aspek biologis. Sedangkan Mark berpendapat bahwa manusia ditentukan oleh masyarakat tempat hidupnya, khususnya oleh sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Fromm menambahi dua sistem deterministik yaitu ide tentang kebebasan. Fromm mengarahkan orang untuk melampaui determinisme yang ditentukan oleh Freud dan Marx. Sebenarnya Fromm menjadikan ide tentang kebebasan ini sebagai karakteristik utama manusia. contoh determinasi sendiri adalah determinisme biologis ala Freudian yang merupakan binatang. Binatang tidak mencemaskan masalah kebebasan, insting mereka telah disiapkan menghadapi segala sesuatu. Tupai, misalnya, tidak perlu pusing-pusing memikirkan mereka akan jadi apa setelah dewasa. Mereka harus jadi tupai, itu saja.
Sementara contoh determinisme ala Mark adalah masyarakat tradisional zaman pertengahan. Seperti Tupai, sedikit sekali orang dizaman pertengahan yang memilih karir sebagai konsultan psikologis, karena memang tidak ada yang butuh konsultasi. Pada kenyataan bahwa kebebasan kita dibatasi oleh determinisme biologis dan sosial tidaklah dapat diingkari.
Jadi, ide tentang individu, yaitu pikiran, perasaan, kesadaran moral, kebebasan dan tanggung jawab individual, memerlukan waktu 500 tahun untuk tumbuh menjadi seperti sekarang. Tapi dengan datangnya individualitas, maka muncul pula isolasi, alienasi, dan keraguan. Kebebasan menjadi sesuatu yang susah diperoleh dan kita cenderung melarikan dirinya.

Kondisi Eksistensi Manusia
1.      Dilema Eksistensi
Menurut Fromm hakekat manusia bersifat dualistik.
Empat dualistik dalam diri manusia yang merupakan kondisi dasar eksistensi manusia, yaitu :
1)      Manusia sebagai binatang dan sebagai manusia
2)      Hidup dan mati
3)      Ketidaksempurnaan dan kesempurnaan
4)      Kesendirian dan kebersamaan
2.      Kebutuhan Manusia
Menurut Fromm arti kebutuhan sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia terbagai dua, yaitu kebutuhan kebebasan dan keterikatan dan kebutuhan untuk memahami dan beraktivitas.
1)      Kebutuhan kebebasan dan keterikatan
a.      Keterhubungan (relatedness)
Kebutuhan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya sendiri.
b.      Keberasalan (rootedness)
Kebutuhan untuk memiliki ikatan-ikatan yang membuatnya merasa nyaman  di dunia.
c.       Menjadi pencipta (transcendency)
Manusia membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat pasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, berubah dari makhluk ciptaan menjadi pencipta.
d.      Kesatuan (unity)
Kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakekat binatang dan non binatang dalam diri individu.
e.      Identitas (identity)
Kebutuhan untuk menjadi “aku” kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang terpisah.
2)      Kebutuhan untuk memahami dan beraktivitas
a.      Kerangka orientasi (frame of orientation)
Orang membutuhkan peta hidup mengenai dunia sosial dan dunia yang dialaminya. Kerangka orientasi adalah seperangkat keyakinan mengenai  eksistensi hidup, perjalanan hidup-tingkah laku bagaimana yang harus dikerjakan, yang mutlak dibutuhkan untuk memperoleh kesehatan jiwa.
b.      Kerangka kesetiaan (frame of devotion)
Kebutuhan untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak. Kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan pencarian makna hidup, menjadi dasar dari nilai-nilai dan titik puncak dari semua perjuangan.
c.       Keterangsangan-stimulasi (excitation-stimulation)
Kebutuhan untuk melatih sistem syaraf, untuk memanfaatkan kemampuan otak.
d.      Keefektivan (efectivity)
Kebutuhan untuk menyadari eksistensi diri melawan perasaan tidak mampu dan melatih kompetensi.
3.      Mekanisme melarikan diri dari kebebasan
Menurut Fromm ciri orang yang mentalnya sehat adalah orang yang mampu bekerja produktif sesuai dengan tuntunan lingkungan sosialnya, sekaligus mampu berpartisipasi dalam kehidupan penuh cinta.
Menurut Fromm, normalitas adalah keadaan optimal dari pertumbuhan (kemandirian) dan kebahagiaan (kebersamaan) dari individu.
Ada dua cara untuk memperoleh makna dan kebersamaan dalam kehidupan. Pertama, mencapai kebebasan positif dan kedua, memperoleh rasa aman.

Fromm mengemukakan 3 bentuk pelarian diri dari kebebasan(escape from Freedom) :
1. otoritarianisme. Kita lari dari kebebasan dengan cara meluruhkan diri dengan orang lain. Misalnya, dengan melibatkan diri ke dalam sistem yang otoriter seperti masyarakat zaman tengah. Ini terjadi dengan dua cara, pertama dengan takluk pada kekuasaan orang lain, menjadi pasif dan tunduk. Kedua, anda akan menjadi orang yang otoriter, artinya Anda menjadi orang yang menentukan struktur bagi orang lain.
Fromm mengatakan bahwa bentuk paling ekstrem dari otoritarianisme adalah Mesokhisme dan Sadisme. Menurutnya kedua sifat ini membuat orang dikuasai oleh keinginannya untuk memainkan peranan yang aneh dan berbeda dengan orang lain.

2. Destruktif. Orang yang otoriter menanggapi penderitaan mereka dengan cara mengecilkan, bahkan meniadakan diri mereka sendiri.
Fromm menambahkan bahwa kalau keinginan seseorang orang dirusak untuk menghalangi keadaan sekelilingnya, dia akan mengarahkan keinginan ini ke dalam (kepada dirinya sendiri). Bentuk paling ekstrem dari menyakiti diri sendiri ini adalah bunuh diri, tapi bentuk-bentuk lainnya juga sangat beragam seperti narkoba, alkoholisme sampai pada keinginan sampai selalu pasif. Dia membalik insting kematian ala Frued, karena keinginan menyakiti diri sendiri adalah wujud dari keputusasaan.

3. konformitas otomaton. Orang-orang otoriter lari dari kebebasan dengan cara bersembunyi dibalik hierarki kekuasaan yang otoriter. Masalahnya adalah masyarakat saat ini lebih mengutamakan kesetaraan, artinya tidak terlalu banyak hierarki kekuasaan yang bisa dijadikan tempat bersembunyi.
Cara ketiga ini adalah imbangan horizontal dari otoritarianisme yang bersifat vertical. Orang yang menggunakan konformitas otomaton persis seperti bunglon. Dia akan berubah sesuai dengan warna yang ada disekelilingnya. Keberadaan “hakiki” manusia adalah kebebasan, maka bentuk-bentuk pelarian dari kebebasan ini memencilkan kita dari diri sendiri.  Maksud Fromm disini adalah kebebasan yang betul-betul bersifat pribadi, bukan kebebasan politik (yang sering disebut “kemerdekaan”). Sebagai contoh, orang mengidap sadisme seksual (masokhisme seksual), orang seperti ini adalah orang yang memiliki persoalan psikologis sehingga mempengaruhi perilaku seksualnya.

Keluarga
Bentuk pelarian dari kebebasan yang anda lakukan sangat terkait dengan kondisi keluarga di mana Anda dibesarkan. Fromm menunjukan dua jenis keluarga yang tidak produktif :
1.      Keluarga-keluarga simbiotik
Simbiosis adalah hubungan dua makhluk hidup di mana keberadaan yang satu menentukan keberadaan yang lain. Dalam keluarga simbiotik beberapa anggota keluarga “dikuasai” oleh anggota keluarga yang lain. Contoh yang paling jelas adalah orang tua yang “menguasai” anaknya, sehingga kepribadian anak tumbuh menjadi bayangan keinginan orang tua. Dalam masyarakat tradisional hal ini biasa terjadi terutama pada diri anak-anak perempuan. Tapi ada pula anak yang menguasai orang tua, dalam kasus ini, anak mendominasi atau memanipulasi orang tua yang keberadaannya hanya melayani keinginan anaknya.
2.      Keluarga yang acuh tak acuh
Ciri keluarga ini adalah pengabaian yang dingin, kalau bukan kebencian yang dingin. Jenis keluarga yang “dingin” ini adalah bentuk pertama dari dua bentuk keluarga yang acuh tak acuh dalam peradaban manusia. Dalam keluarga ini, tuntunan orang tua kepada anak-anaknya sangat kuat, mereka diharapkan mampu meraih standar penghidupan yang lebih baik. Hukuman yang diberikan apabila anak berbuat salah dilaksanakan dengan “darah dingin” yang dijatuhkan “demi kebaikanmu sendiri”. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga ini sangat terdorong bahkan cenderung bernapsu untuk meraih kesuksesan sebagaimana yang diinginkan budaya yang membesarkan mereka. Bentuk kedua dari keluarga acuh tak acuh adalah keluarga modern. Perubahan cara pandang tentang bagaimana mengasuh anak telah membuat para orang tua tidak mau lagi menjatuhkan hukuman fisik dan perasaan bersalah kepada anak-anak mereka yang bersalah. Cara ini ditukar dengan gagasan yang lebih baru, yakni dengan menjadikan anak-anak setara dengan orang tua.seorang ayah menjadi “sahabat” anaknya. Atau seorang ibu menjadi “teman curhat”anaknya. Tapi masalahnya adalah ketika mereka mengontrol emosi anak-anak, orang tua cenderung tidak terlalu tanggap. Dalam keluarga seperti ini anak-anak tumbuh tanpa tuntunan orang tua mereka. Mereka meperoleh nilai-nilai yang diperlukan untuk tumbuh dewasa dari teman-teman atau dari media massa. Lari dari keluarga sangat kentara dalam keluarga ini, yaitu konformitas otomaton. Keluarga semacam inilah yang sanagat dicemaskan Fromm. Menurut Fromm keluarga sangat ideal jika orang tua bertanggung jawab dalam mendidikan dan memberdayakan akal pikiran anak-anaknya dalam suasana yang penuh cinta. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga semacam ini mampu memperlihatkan kebebasan mereka dan bertanggung jawab pada diri mereka sendiri serta kepada masyarakat secara keseluruhan.

Alam bawah sadar sosial
Hampir setiap keluarga merupakan refleksi dari masyarakat dan kebudayaan dimana keluarga itu berada. Fromm menegaskan bahwa setiap kita “menghisap” masyarakat itu bersamaan dengan menghisap air susu ibu sewaktu kita bayi dulu.  Masyarakat begitu dekat dengan diri kita, sehingga kita sering lupa bahwa masyarakat itu sendiri berisi begitu banyak cara dalam menghadapai kehidupan. Kita sering menganggap bahwa cara kita memperlakukan sesuatu adalah satu-satunya cara yang tersedia. Kita harus belajar bahwa semua itu telah menjadi alam bawah sadar bagi kita semua atau lebih tepatnya alam bawah sadar sosial.
Fromm yakin bahwa alam bawah sadar sosial dapat dipahami dengan menelaah sistem ekonomi yang berlaku. Dia mendefinisikan sekaligus menciptakan nama bagi 5 tipe kepribadian berdasarkan system ekonomi. Kelima tipe itu disebut orientasi.
1.      Orientasi reseptif
Mereka selalu berharap memperoleh keinginannya secara langsung.
Orientasi jenis ini diidentikkan dengan keluarga simbiotik, khususnya ketika orang tua “mengeyampingkan” anak-anak mereka dalam bentuk otoritarianisme masokhistik (pasif).
Orientasi ini mirip dengan tahap oral pasif dari Freud, sifat tunduk dari Adler, menguasai dari Horney.
Dalam bentuk yang ektrem orientasi ini dicirikan oleh sifat terlalu patuh atau terlalu memaksakan keinginan. Dalam bentuk moderat dilihat dalam sifat rela menerima atau optimistis.
2.    Orientasi eksploitatif
Mereka berusaha keras mendapatkan keinginan mereka.
Orientasi eksploitatif diidentikkan dengan sisi “penaklukan” dalam keluarga simbiotik dan gaya masokhis dari otoritarianisme. Tipe ini sama dengan tahap oral agresif dari Freud, sifat menguasai dari Adler, dan tipe agresif dari Horney. Dalam bentuk paling ekstrem, tipe ini orangnya cenderung agresif dan menindas. Ketika orang dengan kepribadian ini juga memiliki kualitas kepribadian positif, dia akan menjadi orang yang asertif, menyenangkan dan percaya diri.
3.      Orientasi memiliki
Mereka melihat dunia sebagai hak milik / yang patut dimiliki. Berdasarkan pemikiran Mark, Fromm mengaitkan tipe kepribadian ini dengan kelas borjuis, kelas menegah pedagang, petani yang kaya, dan para buruh yang berketerampilan tinggi.
Tipe kepribadian memiliki identik dengan keluarga acuh tak acuh dan dingin. Tipe kepribadian ini sangat berhubungan dengan perfeksionisme, Freud menyebutnya tipe anal retentive, Adler menyebutnya tipe penolakan, dan Horney menyebutnya tipe menguasai.
Dalam bentuk yang asli tipe ini keras kepala, kaku , tidak imajinatif.
Dalam wujudnya yang sedang-sedang saja, tipe ini bisa dilihat pada orang yang bersemangat, rajin, ekonomis, dan praktis.
4.      Orientasi pasar
Orang yang kepribadiannya berorientasi pasar berharap selalu bisa menjual. Di mana tipe kepribadian modern ini lahir dari keluarga yang acuh tak acuh dan dingin, serta cenderung memilih konformitas otonom sebagai bentuk pelarian diri dari kebebasan. Kepribadian di tahap Phallic yang dikemukankan Freud mungkin mirip dengan ini, yaitu tipe kepribadian yang menjalani kehidupan dengan prinsip untung rugi. Tipe kepribadian ini dapat dilihat dalam sifat-sifat seperti oportunistik, kekanak-kanakan, tidak peduli perasaan orang lain. Sementara bentuk yang positifnya dilihat dalam diri orang-orang yang memiliki tujuan hidup jelas,berdarah muda dan mudah bergaul.
5.      Orientasi produktif.
Kepribadian yang sehat / tanpa topeng. Ini adalah orang yang disatu sisi tidak mengingkari kebutuhan-kebutuhan biologis dan sosialnya, namun di sisi lain tidak pernah mencoba lari dari kebebasan dan tanggung jawabnya. Orang-orang dengan tipe kepribadian semacam ini datang dari keluarga-keluarga yang mencintai tanpa mengekang kebebasan individual, keluarga yang lebih menekankan pertimbangan akal sehat dan kebebasan ketimbang aturan dan ketundukan.

Kejahatan
Kelima orintasi yang telah dibicarakan tadi, baik yang produktif maupun yang tidak, atau yang “memiliki” atau “menjadi”, memiliki satu kesamaan yaitu sebagai usaha menjalani hidup, sebagaimana Horney, Fromm yakin bahwa orang yang mengidap nheorotik akut paling tidak ingin menaklukan hidup. Artinya mereka memiliki sifat biophilus(terlalu mencintai hidup)
Tapi masih ada tipe kepribadaian lain yang dia sebut necrophilous(mencintai kematian). Fromm mengasumsikan beberapa hal yang menyebabkan orang bisa berkepribadian seperti itu, ada pengaruh keturunan yang menyebabkan orang tidak memiliki perasaan saying atau respon afektif. Kepribadian necrophiliac juga bisa disebabkan oleh kenyataan hidup yang penuh keputusasaan sehingga orang menghabiskansisa hiduypnya dengan persaan dendam dan kebencian, dan mungkin penyebabnya adalah ibu yang membesarkan seseorang yang memiliki kepribadian seperti ini, sehingga tidak ada tempat untuk belajar artyio cinta dan kasih saying.

Fromm bisa dikatakan sebagai sosok transisi. Dia adalah seorang teoritikus yang berhasil menggabungkan beberapa teori sekaligus. Aspek lain yang menjadi keunikan teorinya adalah ketertarikannya pada struktrur ekonomi dan budaya yang mempengaruhi keperibadian.


DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press.
George, C. Boeree. 2004. Personality Theories. Yogyakarta : Prismasophie


Read More..

Selasa, 05 Maret 2013

Misyu







Rindu selalu soal ruang dan waktu

maka ku lepaskan kini di sisiku

Mencumbui sunyi merangkum seluruh gerakku

Rindu selalu soal makna

Seperti  menemukan "aku dan kamu"

Menua dalam sejarah yang direka bersama

Setia tanpa mendua


-------------
DFR
Read More..