Rabu, 31 Oktober 2012

“Good Behavior” dan “Misbehavior”, Apa Ukurannya?


Belum ada jam 8.00 pagi waktu itu. Ketika seorang anak tertunduk, dengan wajah agak “merah”, dan nampak lesu, tiba-tiba saja sudah berdiri di depan meja saya. Saya cukup kaget dibuatnya. Setelah duduk, anak itu mencoba menceritakan pengalamannya.
Saat itu sedang pelajaran fisika. Situasi kelas di deretan bangku belakang agak gaduh. Beberapa anak saling berbisik sana sini bercerita tentang liga Inggris yang ditontonnya semalam. Sebagian saling melempar kertas, entah apa isinya. Sementara itu, pak guru masih asyik mencatat sesuatu di papan. Ia mencoba merapat ke bangku depan. Ia berharap akan lebih jelas melihat tulisan sang guru di papan, sekaligus terhindar dari dari gangguan”suara-suara” temannya yang asyik ngobrol di belakang.
Namun hari itu “untung” belum di pihaknya. Guru mendapatinya tengah “jalan-jalan” dan spontan menegurnya dengan “keras”. Ia mencoba menjelaskan masalahnya, sambil menatap wajah sang guru. Bukan pengertian yang diterimannya, justru umpatan dianggap tidak tahu sopan-santun karena “memelototi” sang guru.
Diusirnya anak itu keluar kelas. Sambil diberi litani tak diijinkan masuk kelas sekiranya anak itu belum meminta maaf, dan orang tua “menghadap” guru itu di sekolah. Malang nian anak itu.
Wooow. “Mimpi apa semalam” pikir saya. Selesai mendengar cerita anak itu. Karena “kedisiplinan” sekolah merupakan salah satu tanggungjawab yang diberikan kepada saya, saya mencoba menikmati “durian runtuh” ini. Lama saya termenung mendengar cerita anak itu, sambil berpikir mencari saat yang tepat untuk mencoba berbicara dan mendengar bagaimana situasi sebenarnya menurut versi sang guru.
Perilaku anak itu tadi adalah satu contoh yang kadang dikelompokkan sebagai tindakan “melanggar” tata tertib sekolah. Anak-anak ini adalah “sumber masalah” atau trouble maker bagi guru.
Contoh lain misalnya, siswa merokok di sekolah, sementara aturan sekolah melarangnya. Melakukan perkelahian, menggunakan narkoba, atau terlibat pornografi di sekolah.
Dalam bentuk yang lain bisa muncul seperti membolos, mencuri, atau merusak barang milik sekolah. Juga menyontek saat ujian. Beberapa sekolah menerapkan aturan tidak boleh mengecat rambut, rambut panjang, menato badan, tindik telinga atau bagian tubuh lain. Atau tidak mengerjakan / mengumpulkan pekerjaan rumah. Salah memakai seragam, dan berpakaian “seenaknya” dan sederetan perilaku negatif lain biasanya disebut perilaku menyimpang (misbehavior). Sebuah perilaku yang bertentangan atau tidak sejalan dengan tata tertib atau rule of the game sekolah diasosiasikan sebagai misbehavior.
Sementara setiap aktifitas di sekolah yang sesuai dengan norma-norma umum dan tata tertib sekolah serta berlawanan dengan misbehavior tadi disebut sebagai perilaku baik (good behavior), dan biasanya itu menyenangkan hati sang guru.
Bagaimana mendorong sikap disiplin anak?
Sikap disiplin dan perilaku baik seorang anak dapat dikembangkan melalui beragam strategi dan aktifitas. Bear, G.G & Duquette, J.F (2008), dalam tulisannya yang berjudul “Fostering Self-Discipline” yang dimuat di majalah Principal Leadership edisi bulan oktober menyebutkan beberapa hal perlu diperhatikan untuk mengembangkan sikap disiplin diri anak di sekolah.
Pertama, perlu dikedepankan sikap peduli, hormat dan mendukung. Mengembangkan sikap hormat dan bersahabat dengan setiap anak tanpa padang bulu akan membuat anak yang membuat kesalahan cepat belajar dari kesalahannya. Sikap itu akan membuat anak merasa lebih dihargai dan diterima meskipun ia bersalah.
Kedua, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan. Riset menunjukkan bahwa sekolah yang memiliki tingkat pelanggaran kedisiplinan yang rendah lebih disebabkan karena anak merasa bahwa aturan main di sekolahnya jelas, adil, dan tidak “keras”. Dengan terlibat dalam pengambilan keputusan, anak akan memiliki ownership yang lebih, dia merasa juga perlu ikut bertanggungjawab “menegakkan” aturan itu (Arum, 2003).
Ketiga, melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan sekolah. Keterlibatan orang tua diperlukan agar terjadi keseimbangan antara kebiasaan dan norma perilaku yang diterima di sekolah dengan apa yang dilakukan orang tua di rumah. Seberapa besarnya upaya penanaman nilai dilakukan di sekolah, tidak akan banyak artinya ketika semua itu di-“negasi” oleh perilaku orang tua di rumah.
Keempat, mengajarkan anak masalah sosial dan moral yang relevan bagi mereka. Menggunakan berbagai kesempatan untuk melatih anak memiliki ketrampilan pemecahan masalah berbagai isu social dan moral. Tema-tema “sex bebas”, pengguguran, merokok, drug, dsb dapat dipergunakan untuk mengasah ketajaman anak dalam melewati tahapan perkembangan kepribadiannya.
Kelima, menyadari bahwa setiap anak berbeda. Setiap anak perlu diakui bahwa mereka memiliki kepribadian dan temperamen yang berbeda. Disiplin sekolah perlu mengakomodasi dan tidak memperlakukan mereka sebagai “barang” yang sama.
Keenam, berikan penghargaan dan pujian. Memberikan feedback yang positif dalam bentuk pujian dan penghargaan yang tepat dan proporsinal, dalam banyak hal akan lebih efektif daripada “kontrol” yang berlebihan kepada anak. Misalnya, “minggu ini tidak ada pekerjaan rumah buat kalian, karena kita sudah bekerja keras minggu ini” akan lebih baik daripada mengatakan “kalau kamu menaati peraturan sekolah, tidak ada pekerjaan rumah buat kalian minggu depan”.
Ketujuh, mereka adalah remaja. Menyadari mereka adalah remaja adalah penting artinya buat mereka. Guru tidak bisa memperlakukan mereka sebagai orang dewasa “kecil”. Mendengarkan dan menjadi pendorong mereka atas segala kesulitan dan masalah pribadinya, akan lebih bermakna bagi perkembangan diri mereka.
Strategi menangani anak “bermasalah”
Bagaimana pun menangani mereka yang bermasalah memerlukan ketrampilan dan energi tersendiri. Bear dan Duquette memberikan beberapa resep praktis bagaimana guru menangani anak “bermasalah”.
Bersikap tenang, tegas, dan adil. Guru harus menunjukkan sikap dan perhatian yang adil pada anak. Ia tidak perlu larut dalam kemarahan. Fokusnya adalah pada “perilaku” anak yang dianggap salah, dan bukan cepat membuat penilaian (judgment) bahwa anak tersebut “jahat” dan “salah”.
Melihat masalah sebagai kesempatan untuk belajar. Guru harus belajar dari setiap masalah yang dihadapinya. Menunjukkan kepada anak, bahwa ia dan anak itu bisa bersalah, namun yang penting bagaimana memperbaikinya ke depan. Anak itu bersalah, namun dia bisa belajar dari kesalahannya.
Fokus pada dampak perilaku anak bagi orang lain. Setiap perilaku anak yang “bermasalah” biasanya menjadikan dirinya ukuran segalannya. Maka kepada anak itu perlu diajak merefleksikan perbuatannya bagi orang lain. Bagaimana sikap dan perasaaan orang lain di sekitarnya, misalnya teman sekelas atau perasaan orang tuanya.
Mempertimbangkan “alasan” dan memperbaiki cara berpikir. Setiap alasan di balik setiap penyimpangan perilaku anak perlu di perhatikan oleh guru. Ketika itu dilewati, dan sekedar anak diajak berubah hanya atas dogma “taat”, sebenarnya guru tidak berhasil mengubah cara berpikir dan bersikap yang salah pada diri anak tersebut.
Berikan hukuman secara berjenjang dan melalui beragam bentuk. Bagian terakhir adalah hukuman. Bagian ini pun sebisa mungkin dilakukan dalam bentuk yang bervariasi, agar karakteristik anak tetap dihargai dan tujuan pemberian hukuman itu pun tercapai. Hukuman yang tidak kreatif, hanya bersifat fisik misaknya, tidak memberikan efek positif sebagaiman diharapkan.
Akhirnya perlu digarisbawahi, terkadang tidak mudah menilai perlaku “menyimpang” pada anak. Perilaku “’kreatif” dan “menyimpang” tidak jarang saling beririsan. Apa yang kita pikirkan ketika anak di sekolah membara “barang” yang bentuknya seperti alat kelamin pria, misalnya? Kita berasumsi anak itu dengan pasal “pornografi”, padahal mungkin anak itu sedang merefleksikan bagaiman pentingnya organ itu bagi kehidupan seorang pria.
Sekali lagi, perilaku “menyimpang” anak di sekolah mesti disikapi secara kritis pada jaman ini, setujukah anda?




Referensi :
Wibowo, Thomas. 28 Februari 2009. Good Behavior dan Misbehavior, Apa Ukurannya? www. kompas.com. diakses 27 September 2009. Online.


****
Artikel ini digunakan untuk melakukan tugas critical review yang akan dibahas pada entry selanjutnya...
Read More..

Kasus Psikologi Industri : Psikologi Rekayasa

Kasus :

Awalnya perusahaan/organisasi telah menemukan sso yg dianggap sgt kompeten yg diperoleh dari serangkaian proses seleksi kerja (TPA, psikotes, wawancara, dll). Namun kenyataannya yg bersangkutan dianggap tdk produktif & hrs diberhentikan. Bgmn hal ini jika ditilik dr faktor "the right man in the right place" & dari sudut pandang psikologi rekayasa ? 

Jawaban:


Sebuah perusahaan besar tentulah memerlukan orang-orang yang handal dalam bidangya, perusahaan itu pada umumnya ingin mencari karyawan yang benar-benar the best untuk pekerjaannya tersebut. Dengan serangkaian proses seleksi kerja, dari Tes Potensi Akademik yang harus berstandar di atas rata-rata, Psikotes yang berjam-jam, wawancara kerja dengan HRD (Human Research Development) , dan lain-lain tentulah orang-orang yang lulus seleksi dan direkrut perusahaan tersebut orang-orang yang benar-benar the right man in the righ place. Betapa tidak? Seabrek seleksi untuk menempati jabatan itu sudah terlampaui.
Engineering psychology (Psikologi kerekayasaan) adalah suatu kerekayasaan faktor-faktor manusia (human factors engineering), kerekayasaan manusia (human engineering), egronomika (egronomics), psikoteknologi, dan psikologi eksperimen terapan. Psikologi kerekayasaan ini terutama memperhatikan penemuan dan penerapan informasi tentang perilaku dalam kaitannya dengan mesin-mesi, peralatan, pekerjaan, dan lingkungan kerja.
Dalam kasus tersebut dapat ditilik kembali bagaimana serangkaian proses seleksi itu dianggap berhasil untuk menempatkan seseorang yang right di bidangnya dan bagaimana peranan dari kondisi kerja dari perusahaan tersebut, sehingga orang yang bersangkutan dianggap sudah tidak produktif lagi.
Penempatan seseorang the man in the right sudah melalui prosedur benar dan langkah awal dari suatu rekrutmen karyawan, dengan begitu tidak dapat disalahkan bahwa proses seleksi itu salah, tetapi mungkin dalam proses seleksi itu harus lah juga menggunakan seleksi tes practice (tes langsung praktek nyata pada perusahaan).
Kenyataan di lapangan, seseorang tersebut sudah tidak produktif lagi, tidak produktifnya seseorang dari sudut pandang in the man in the right place (penempatan kerja) dan psikologi kerekayasaan disebabkan oleh faktor usia (usia non-produktif), lingkungan (bagaimana kondisi kerja perusahaan tersebut, atau karena orang tersebut benar-benar tidak mampu dalam posisi tersebut?
Kondisi kerja dari sudut pandang psikologi kerekayasaan itu terdiri dari kondisi fisik kerja dan kondisi waktu kerja, seseorang tersebut bisa saja tidak produktif karena iluminasi, warna, kebisingan, music, dan lain-lain yang tidak ‘dia bangets’ sehingga karyawan tersebut kurang dapat meng-explor dirinya agar lebih baik lagi dan bekerja produktif seperti yang diharapkan perusahaan.
Kondisi waktu kerja ternyata juga memberikan pengaruh seseorang dalam produktif atau tidaknya dalam melakukan sesuatu dari suadut pandang psikologi kerekayasaan, di mana faktor jam kerja lembur,  jam kerja yang kurang sesuai, kerja paro waktu-waktu tetap, dan 4 hari minggu kerja juga menjadi penyebabnya.
Jadi seseorang yang benar-benar sudah lulus dalam proses seleksi kerja karyawan dapat saja dianggap kurang produktif ketika benar-benar sudah terjun dalam pekerjaannya karena faktor-faktor tersebut.




****
Kasus ini adalah salah satu tugas mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi waktu semester 3
hihihi
Read More..

Environmental Psychology : Arousal Theory, Environmental Load Theory, Adaptation Level Theory,Personal Space, Privacy


1.     Arousal Approach Theory
Inti dari teori ini adalah meningkatnya (bangun, bangkit) atau berkurangnya kegiatan di otak sebagai suatu akibat dari proses faal tertentu (Hebb, dalam Sarwono, 1992). Perubahan kegiatan otak ini merupakan variabel perantara (intervening variable) antara rangsang yang datang dari lingkungan dengan tigkah laku yang terjadi.
     Contoh dari arousal adalah ketika seorang datang dari desa dengan kereta api. Ketika turun di stasiun ia menghadapi berbagai stimulus seperti keramaian, kebisingan, udara yang panas, dan polusi udara. Sebagai indikator bahwa orang desa tersebut terjadi peningkatan kegiatan pada syaraf otonom seperti bertambah cepatnya denyut jantung, naiknya tekanan darah, dan produksi adrenalin yang lebih cepat. Maka setelah ada tanda-tanda peningkatan itu, kita dapat meramalkan akan terjadi perilaku tertentu seperti agresivitas (marah-marah) ataupun mencari kendaraan umum.
    Arousal yang rendah akan menghasilkan pekerjaan (performance) yang rendah juga. Makin tinggi arousalnya, makin tinggi pula pekerjaannya. Pada tugas-tugas yang mudah hasilnya akan terus meningkat dengan meningkatnya arousal, tetapi pada pekerjaan yang sulit hasil pekerjaan justru akan menurun jika arousal melebihi batas tertentu.
Misalnya : suara musik di dalam mobil bisa merangsang semangat pengemudi, tetapi suara musik yang sama dapat mengganggu konsentrasi orang yang sedang memecahkan persoalan matematika.
Hubungan antara arousal dan performance, dalam psikologi Lingkungan disebut Hukum Yerkes dan Dodson.


2.     Environmental Load Theory
Teori ini dikemukakan oleh Cohen dan Milgram. Prinsip dasar dalam teori ini adalah manusia memiliki keterbatasan dalam mengolah stimulus dari lingkungannya. Jika stimulus lebih besar dari kapasitas pengolahan informasi maka terjadi kelebihan beban (overload) yang mengakibatkan sejumlah stimuli harus diabaikan agar individu dapat memusatkan perhatiannya pada stimuli tertentu saja.

Strategi pemilihan tingkah laku coping untuk memilih stimuli mana yang mau diprioritaskan atau diabaikan akan menentukan reaksi positif atau reaksi negative terhadap lingkungannya. Kelebihan kapasitas yang terlalu besar akan menyebabkan individu tidak mampu lagi menanganinya dalam kongnisi sehingga akan menimbulkan gangguan kejiwaan seperti merasa bosan, tertekan, jenuh, dll.

Contohnya : pemandangan suatu kota besar di mana terlalu banyak gedung tinggi, kendaraan, lampu kota, papan reklame. Oleh karena itu, orang yang tinggal di kota besar sering mengeluh jenuh, bosan, ingin melarikan diri untuk mencari ketenangan dan kedamaian.

3.     Adaptation Level Theory
·         Adaptation level adalah
1.      Satu titik subjektif dari persamaan dalam mana perangsang menjadi netral atau tidak berpengaruh lagi.
2.      Suatu keadaan homeostatis bercampur dengan netralitas emosional  (Chaplin, 1981) 
·         Manusia menyesuaikan responnya terhadap rangsang yang datang dari luar, sedangkan stimuluspun dapat diubah sesuai keperluan manusia. Wohlwill menamakan penyesuaian respon terhadap stimulus sebagai adaptasi, sedangkan penyesuaian stimulus pada keadaan individu disebut adjustment.
·         Setiap orang mempunyai tingkat adaptasi tertentu (adaptation level) terhadap rangsang atau kondisi lingkungan tertentu.
·         Reaksi orang terhadap lingkungannya bergantung pada tingkat adaptasi orang yang bersangkutan pada lingkungan itu. Makin jauh perbedaan antara keadaan lingkungan dengan tingkat adaptasi, maka makin kuat pula reaksi orang itu.
·         Kondisi lingkungan yang dekat atau sama tingkat adaptasinya adalah kondisi optimal. Orang cenderung selalu mempertahankan kondisi optimal ini, dalam skema Bell dinamakan kondisi homeostatis.
·         Ada 3 kategori stimulus yang dijadikan tolok ukur dalam hubungan lingkungan dan tingkah laku, yaitu
1.      Stimulus fisik yang merangsang indera (suara, cahaya, suhu udara)
2.      Stimulus sosial
3.      Gerakan
·         Ketiga stimulus itu masing-masing memiliki 3 dimensi, yaitu:
1.      Intensitas ; misalnya suara yang tidak terlalu keras lebih menyenangkan  daripada yang terlalu keras atau terlalu lemah.
2.      Diversitas (Variasi Rangsang) ; terlalu banyak atau terlalu sedikit macam rangsang juga tidak menyenangkan.
3.      Pola ; rangsang yang terlalu berstruktur mungkin tidak sama sekali menyenangkan daripada yang tidak berstruktur.



4.     Personal Space
Manusia mempersepsikan ruang disekitarnya lengkap dengan isinya, tidak berdiri sendiri.  Jika isi ruang itu adalah manusia lain maka orang akan langsung membuat suatu jarak tertentu antara dirinya sendiri dengan orang lain itu dan jarak itu sangat ditentukan oleh bagaimana kualitas hubungan orang itu.
Disekitar diri individu seakan-akan ada sebuah kapsul yang membatasi jarak degan orang lain. Luas atau sempitnya kapsul itu bergantung pada kadar dan sifat hubungan antar individu dengan individu lainnya.
Personal space sangatlah bergantung sekali pada bagaimana sikap dan pandangan orang yang bersangkutan terhadap orang yang lainnya.
Dalam psikologi lingkungan, jarak antarindividu digunakan sebagai sarana komunikasi.
Personal space adalah suatu batas maya yang mengelilingi diri kita yang tidak boleh dilalui oleh orang lain (Bell, Greene, Fisher, & Baum, 2001) sedangkan menurut Holanah (dalam Bell, Greene, Fisher, & Baum, 2001), personal space itu seolah-olah merupakan sebuah balon atau tabung yang menyelubungi  diri kita dan tabung itu membesar dan mengecil bergantung  dengan siapa kita sedang berhadapan.
Menurut Hall, ada 4 macam jarak personal space, yaitu : Jarak Intim, Jarak Personal, Jarak Sosial, dan Jarak Publik.



·         Fungsi personal space menurut Hall adalah sebagai alat komunikasi bisa diteliti secara khusus.
·         Proxemics : Ilmu untuk meneliti personal space, metode yang dipakai adalah stop-jarak yaitu orang percobaan (o.p) diminta duduk atau berdiri di suatu tempat tertentu dan orang lain diminta untuk mendekatinya secara bertahap (makin lama makin dekat).
·         Faktor-faktor yang mempengaruhi personal space , yaitu :
1.      Jenis kelamin
2.      Usia
3.      Tipe kepribadian
4.      Latar belakang suku bangsa dan kebudayaan.
5.      Keadaan lingkungan dimana interaksi tersebut terjadi.

5.     Privacy
·         Privacy adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya.. Dalam istilah psikoanalisis, privacy adalah dorongan untuk melindungi ego seseorang daro gangguan yang tidak dikehendakinya.
·         Hall mendapatkan bahwa ada 6 jenis dalam privacy yang terbagi dalam dua golongan, yaitu :
1.      Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik. Golongan ini terwujud dalam tingkah laku menarik diri (withdrawal) yang terdiri atas 3 jenis.
a.      Keinginan untuk menyendiri (solitude).
b.      Keinginan untuk menjauh dari pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas (seclusion).
c.       Keinginan untuk intim (intimacy) dengan orang-orang (keluarga/pacar) tetapi jauh dari semua orang lainnya.
2.      Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya member informasi yang dianggap perlu (control of information). Tiga jenis privacy yang masuk golongan ini adalah :
a.      Keinginan untuk merahasiakan jati diri ( anonymity).
b.      Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve).
c.       Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga (not-neighboring)
·         Privacy dan kerahasiaan (secrecy) terdapat perbedaan yang hakiki, yaitu privacy merupakan consensus pendapat dan merupakan hak individu yang diakui oleh masyarakat, sedangkan secrecy lebih mempunyai konotasi negative, tidak disukai masyarakat, dan tidak ada kaitannya dengan hak individu.
·         Menurut Holanah, privacy adalah hasrat atau kehendak untuk mengontrol akses fisik maupun informasi terhadap diri sendiri dari pihak lain.  Sedangkan personal space adalah perwujudan privacy dalam bentuk ruang (space). Jadi privacy merupakan inti dari personal space. Privacy mempunyai fungsi dan menjadi bagian dari komunikasi.
·         Fungsi Privacy, antara lain :
1.      Sebagai sarana komunikasi, karena merupakan inti dari personal space.
2.      Mengembangkan identitas pribadi, yaitu mengenal diri sendiri dan menilai diri sendiri.
·         Apabila privacy terganggu apalagi secara terus menerus maka akan terjadi proses ketelanjangan sosial, yaitu merasa semua orang tahu tentang semua rahasia diri sendiri sehingga timbul rasa malu menghadapi orang lain. Selain itu juga terjadi proses deindividuasi, di mana orang merasa bahwa individunya merasa tidak dihargai lagi karena itu ia pun tidak peduli lagi pada harga diri sendiri maupun harga diri orang lain.

Referensi :
Bell, P., Greene, T., Fisher, J., & Baum, A. (2001). Environmental Psychology, 5 th Ed. NY: HarcourtBrace,. Inc.
Chaplin, J. P. 1981. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Rajawali Press.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta : Grasindo

Read More..

Kamis, 18 Oktober 2012

BERUBAH





Berubah...

Jeng Jeng Jeng Jeng

 Ini bukan berubah sembarang berubah, bukan juga berubah menjadi rubah, apalagi berubah sambil menghancurkan rumah.

Ini berubah adalah real berubah, berubah agar diri tidak semakin “lelah”.

Okesip, pernah merasakan sakit hati yang dalam terus dongkol sama orang?

Oh tentu pernah dong ya, kite kan juga manusia kayak manusia pada umumnya.

Bagaimana perasaan kita ketika itu? Sakit? Marah? Benci? Errr negatif semua deh ya pokoknya.

Tapi pernahkah kita berpikir tentang orang yang menyakiti kita itu?

Gak usah dijawab deh ya. Pada saat itu kemungkinan besar pikiran  penuh dengan bumbu negatif, jadi nyalahin aja bawaannya.

Tapi telisik demi telisik, hal ini membahayakan loh?

Hati yang sakit malah bisa bikin penyakit.

Jadi, di sini kita harus berubah.

Ya, berubah dalam mengolah pikiran kita menjadi tidak negatif sehingga terjadilah penetralisir perasaan sakit.

Gak percaya? Bingung? Langsung take example deh ya

“Saat kita naik motor di jalanan yang licin dan basah setelah diguyur hujan, kita tentu hati-hati naik motornya supaya tidak kecipratan air yang mampu mengotori pakaian. Namun, ketika di dekat kubangan jalan, ada pengendara mobil atau motor yang menyalip kita sehingga kita jadi tersemprot oleh air kubangan setelah hujan, bagaimanakah reaksi kita?”

Opsi 1:  Kita marah, melakukan sumpah serapah, dan mungkin akan memaki.

Opsi 2 : Kita berpikir bahwa si pengendara mobil atau motor itu sedang buru-buru dijalanan karena saudaranya meninggal dunia atau kritis di rumah sakit, atau rumah mereka kebakaran sehingga harus buru-buru menyelamatkan barang.

Kita bisa memilih respon atas perasaan yang menimpa kita melalui pikiran, jika kita berpikiran tentang opsi 2 apakah kita akan sakit hati teman-teman?

Saya yakin tidak, malah kita akan bergegas mendoakan supaya selamat sampai tujuan.

Namun, apa jadinya ketika memilih opsi 1, apakah bisa mengembalikan pakaian yang terciprat jadi bersih kembali? Belum lagi, kita semakin mengotori hati bukan?

So, kita harus berubah dalam mengelola pikiran agar mampu memilih respon positif yang akan diberikan dan membuat perasaan nyaman.




Bagaimana menurut Anda?







Read More..

Mari Kita Sambut Bulan Dzulhijjah


Alhamdulillah, kita memasuki bulan #dzulhijjah. Ada banyak keutamaan dan amalan sunnah yang baik pada bulan ini.

Keutamaan pertama dari Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah merupakan waktu yang mulia dan barokah, Allah menuliskannya dalam AlQuran Surat Al-Fajr : 1 -2

Keutamaan kedua dari Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah adalah amal di waktu itu paling dicintai Allah

“Tidak ada 1 amal shaleh yang lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dlakukan pd 10 hari prtma bulan #DzulHijjah)”
HR.Abu Dawud&Ibnu Majah

Keutamaan ketiga dari Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah adlh di waktu itu disyariatkan Ibadah haji yg merupakan rukun Islam kelima.

Keutamaan keempat dari Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah adalah, pada waktu itu ada hari Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah

Pada hari arafah jama'ah haji diwajibkan melakukan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji. Sdngkn bg umat Islam yg tdk mnjalankn ibadah haji disunnahkan mlkkn puasa arafah yg keutamaanny dpt mghapus dosa slama 2 thn. 

Rasulullah SAW prnh dtny ttg puasa Arafah, beliau mnjawab,“Puasa itu mghapus dosa 1 thn yg lalu& thn briktnya.”
(HR. Muslim) 

Keutamaan kelima dr Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah adlh, amal2 pd hari itu dlipatgandakn phalany,baik di siang hr maupun mlm hr

Tidak ada hari2 yg lbh dsukai Allah utk beribadah sbgaimn halnya hari-hari sepuluh #Dzulhijjah.

Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pd mlm harinya sm nilainya dgn mengerjakan shalat pd malam lailatul qadar.
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah&Baihaqi) 

Keutamaan keenam dari Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah adalah, istimewanya waktu itu untuk membaca tahlil, takbir dan tahmid.

Tdk ada hari2 yg dianggp lbh agung olh Allah & lebih disukai utk dgunakn sbg tmpt bramal sbgaimana ksepuluh hr pertama #Dzulhijjah. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid.
(HR. Ahmad)

Keutamaan ketujuh dari Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah adlh, pada akhir waktu itu yaitu 10 Dzulhijjah adalah Hari raya Idul Adha

Keutamaan kedelapan dari Sepuluh Hari Pertama Bulan #Dzulhijjah adlh, disyariatkannya ibadah udhiyah (berkurban) baik sapi atau kambing

Keutamaan kesembilan dr Sepuluh Hr Pertama Bulan #Dzulhijjah adlh dsyariatkanny takbir muthlaq(stiap saat) & muqayyad(stlh shalat fardhu)

Kesempatan bertakbir ini jauh lebih panjang daripada Idul Fitri dan ini merupakan kesepakatan para imam yang empat #Dzulhijjah

Keutamaan kesepuluh dari Sepuluh Hr Pertama Bulan #Dzulhijjah adlh brkumpulny induk2 ibadah pd waktu itu spt haji, shalat, puasa, sdekah

Mari kita sambut #Dzulhijjah dengan semakin mendekatkan diri kepadaNya #NtMS




****
Pojok Ruangan Kantor, 16 Oktober 2012 / 30 Dzulkaidah 1433 H
Pernah diposting dalam kultwit disini

Read More..