Jumat, 23 November 2012

Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi





Kasus :
     Seorang ibu membawa anaknya yang masih duduk di bangku dasar kelas 2 ke psikolog di biro psikologi YYY.sang ibu meminta kepada psikolog agar anaknya diperiksa apakah anaknya termasuk anak autisme atau tidak. Sang ibu khawatir bahwa anaknya menderita kelainan autism karena sang ibu melihat tingkah laku anaknya berbeda dengan tingkah laku anak-anak seumurnya.Psikolog itu kemudian melakukan test terhadap anaknya. Dan hasilnya sudah diberikan kepada sang ibu, tetapi sang ibu tersebut tidak memahami istilah – istilah dalam ilmu psikologi. Ibu tersebut meminta hasil ulang test  dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Setelah dilakukan hasil tes ulang, ternyata anak tersebut didiagnosa oleh psikolog yang ada di biro psikologi itu mengalami autis. Anak tersebut akhirnya diterap. Setelah beberapa bulan tidak ada perkembangan dari hasil proses terapi. Ibu tersebut membawa anaknya kembali ke biro psikologi yang berbeda di kota X, ternyata anak tersebut tidak mengalami autis, tetapi slow learned. Padahal anak tersebut sudah mengkonsumsi obat-obatan dan makanan bagi anak penyandang autis. Setelah diselediki ternyata biro psikologi YYY tersebut tidak memiliki izin praktek dan yang menangani bukan psikolog, hanyalah sarjana psikologi Strata 1. Ibu tersebut ingin melaporkan kepada pihak yang berwajib, tetapi ibu tersebut dengan psikolog itu tidak melakukan draft kontrak dalam proses terapi.

KAITAN KASUS DENGAN KODE ETIK PSIKOLOGI
            Kasus di atas dalam kode etik psikologi melanggar pasal – pasal yaitu
Pasal 4
Penyalahgunaan di bidang Psikologi

b) Pelanggaran sedang yaitu:
Tindakan yang dilakukan oleh Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi karena kelalaiannya dalam melaksanakan proses maupun penanganan yang tidak sesuai dengan standar prosedur yang telah ditetapkan mengakibatkan kerugian bagi salah satu tersebut di bawah ini:
i. Ilmu psikologi
ii. Profesi Psikologi
iii. Pengguna Jasa layanan psikologi
iv. Individu yang menjalani Pemeriksaan Psikologi
v. Pihak-pihak yang terkait dan masyarakat umumnya.
Dalam kasus Psikolog lalai dalam melaksanakan proses dan mendiagnosa klien sehingga menimbulkan kerugian bagi klien dan keluarga klien.
Pasal 7
Ruang Lingkup Kompetensi

(1) Ilmuwan Psikologi memberikan layanan dalambentuk mengajar, melakukan penelitian dan/atau intervensi sosial dalam area sebatas kompetensinya, berdasarkan pendidikan, pelatihanatau pengalaman sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
            Dalam kasus, individu yang ada di biro psikologi itu bukan psikolog, melainkan hanya ilmuan psikologi yaitu sarjana S1 yang tidak berhak membuka praktek dan melakukan intervensi terapi, karena kompetensi melakukan terapi dan intervensi adalah kompetensi psikolog
Pasal 65
Interpretasi Hasil Asesmen
Psikolog dalam menginterpretasi hasil asesmen psikologi harus mempertimbangkan berbagai faktor dari instrumen yang digunakan, karakteristik peserta asesmen seperti keadaan situasional yang bersangkutan, bahasa dan perbedaan budaya yang mungkin kesemua ini dapat mempengaruhi ketepatan interpretasi sehingga dapat mempengaruhi keputusan.

Pasal 66
Penyampaian Data dan Hasil Asesmen
(1) Data asesmen Psikologi adalah data alat/ instrument psikologi yang berupadata kasar,respon terhadap pertanyaan atau stimulus, catatan serta rekam psikologis.Data asesmenini menjadi kewenangan Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang melakukan pemeriksaan.Jika diperlukan data asesmen dapat disampaikan kepada sesama profesi untuk kepentinganmelakukan tindak lanjut bagi kesejahteraan individu yang menjalani pemeriksaan psikologi.
(2) Hasil asesmen adalah rangkuman atau integrasi data dari seluruh proses pelaksanaan asesmen. Hasil asesmen menjadi kewenangan Psikolog yang melakukan pemeriksaan dan hasil dapat disampaikan kepada pengguna layanan. Hasil ini juga dapat disampaikan kepada sesama profesi, profesi lain atau pihak lain sebagaimana yangditetapkan oleh hukum.
(3) Psikolog harus memperhatikan kemampuan pengguna layanan dalam menjelaskan hasil asesmen psikologi. Hal yang harus diperhatikan tikan adalah kemampuan bahasa dan istilahPsikologi yang dipahami pengguna jasa.

Jadi, psikolog tersebut harusnya menyampaikan secara jelas hasil pemeriksaan psikologis klien dengan bahasa yang mudah dipahami. Hal ini dikarenakan agar klien tidak merasa dirugikan ketika datang ke praktek psikologi. Selain itu, ketika klien meminta tes ulang, bisa saja sudah terjadi bias di dalam tes, karena klien sudah mengetahui tentang apa – apa yang ingin dilakukan tes atau pemeriksaan.
Pasal 73
Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
(1) Konselor/Psikoterapis wajib menghargai hak pengguna layanan psikologi untuk melibatkan diri atau tidak melibatkan diri dalam proses konseling psikologi/psikoterapi sesuai denganazas kesediaan. Oleh karena itu sebelum konseling/psikoterapi dilaksanakan, konselor/psikoterapis perlu mendapatkan persetujuan tertulis (Informed Consent) dari orang yang menjalani layanan psikologis. Persetujuan tertulis ditandatangani oleh klien setelah mendapatkan informasi yang perlu diketahui terlebih dahulu.

     Dalam kasus, tidak ada draft kontrak antara ibu anak tersebut dengan psikolog sehingga ibu kesulitan untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib tentang persoalan ini.

Selain melanggar pasal-pasal dalam kode etik tersebut, kasus diatas juga tidak memiliki izin praktek dari HIMPSI.

Solusi yang disarankan untuk kasus ini adalah
1.      Melaporkannya kepada HIMPSI daerah dimana biro psikologi itu berdiri dan akan ditindak lanjuti oleh majelis psikologi sesuai dengan pasal 3 ayat 2 kode etik psikologi Indonesia
2.      Melaporkannya kepada pihak yang berwajib dengan membawa hasil tes anak yang didiagnosa autis tersebut dan membandingkannya dengan hasil tes anak yang didiagnosa slow learned.
3.      Melakukan tes ulang pada psikolog yang berbeda tentang hambatan perkembangan yang dialami oleh anak, karena mungkin saja si anak mengalami autis atau slow learned atau gangguan yang lainnya.
4.      Ketika mengunjungi psikolog atau suatu biro psikologi, harap memperhatikan SIP dan No Praktek dari psikolog atau biro psikologi yang bersangkutan yang dikeluarkan oleh HIMPSI pusat.
5.      Harus meminta adanya informed consent jika klien harus melakukan terapi agar memudahkan antara psikolog dank lien.


Referensi :
Diktat Ajar Mata Kuliah Kode Etik
Kode Etik Psikologi yang diakses dari himpsi.or.id

10 komentar:

  1. Ini beneraan ada kasusnya ato ngarang?
    terlalu banyak kejanggalan.
    1. Apakah papan nama tidak menuliskan nomor SIP (Surat Izin Praktek)?
    2. Nama psikolog yang tertera tidakkah memuat gelarnya? mengapa baru ketahuan setelah terpai beberapa bulan?
    3. Psikolog memberikan obat? itu mah psikiater. apalagi katanya S1, berani banget yah dia ngasih resep.

    Kalo contoh kasus nya memang benar, sebaiknya perlu dilakukan sosialisasi mengenai biro psikologi kepada masyarakat,
    Tapi kalo contoh kasusnya ngarang, hati-hati lho..

    maaf kritikan..
    ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Dian.....

      Kasus ini adalah kasus yang pernah kami diskusikan ketika kelas kode etik... Jujur, saya tidak mengetahui pasti apakah kasus ini benar atau tidak...Karena kemaren kita diminta mencari "contoh" kasus dan kaitannya dengan kode etik psikologi di Internet..

      Yang pertama, ketidaktahuan masyarakat ttg psikolog dan psikiater aja masih banyak ditemukan dimasyarakat, apalagi sampai menyelidiki SIP bagi masyarakat awam...

      Yang kedua, banyak loh pusat terapi yang didalamnya tidak ada psikolog, hanya ada terapis yang memang sudah pernah ditraining sbg terapis.

      Yang ketiga, dalam contoh kasus ini, menurut hemat saya, psikolog tidak memberikan obat, tetapi orangtua si anak memberikan obat obat untuk mengurangi keaktifan (autis) si anak setelah si anak dideteksi autis tsb...

      Terima kasih....

      Hapus
  2. Inilah masalahnya kalau Psikologi belum ada undang-undangnya akhirnya tidak bisa di Polisikan, atau dipidanakan kalau ada Penyimpangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaah sperti itulah....
      psikologi hanya mempunyai kode etik tetapi belum mempunyai kekuatan hukum
      hal ini yg msih diperjuangkan sampai saat ini

      sperti yg dikatakan dosen saya "kalau bukan kita siapa lagi yg akan menjalankan kode etik ini. karna ini lahan kita. jika kita melanggar maka kita tidak punya lahan lagi"

      Hapus
  3. Assalamualaikum
    informasi yg sangat bermanfaat untuk penyelesaian tugas mata kuliah kode etik psikologi saya
    mhon izin untuk mengambil kasus diatas

    mohon informasi dan bantuannya juga jika ada informasi tentang kasus kode etik psikologi dalam hal asesmen
    mhon di share ke saya
    trimakasih & maaf merepotkan

    BalasHapus
  4. Psikologi itu ilmu yahudi yg sesat. Masak psikotes dijadikan syarat masuk SD kelas satu. Belum di tes anak2 tsb sudah bnyk yg nangis. Gimana hasilnya bisa valid ? Anehnya bnyk lembaga2 psikolog yg mau nerima tawaran tsb tanpa memikirkan efek psikologis bagi anak anak yg mau di tes dan ternyata hasil tesnya buruk. Jika psikotes for kid tsb utk sekedar mapping sih sah sah saja. Tapi hasil psikotes tsb di pakai oleh sekolah utk menjudge anak anak yg hasil psikotesnya buruk. Kalau mau melakukan assesment juga......maka libatkan dokter jiwa ( psikiater), dokter anak konsultan neurologi dan dokter anak konsultan gizi dan tumbuh kembang anak. Buat semacam panel atau panitia penilai ( assesment). Di situ baru hasil paling tidak komprehensif dari berbagai sudut pandang ilmu

    BalasHapus
  5. Ilmu psikologipun gak jelas.....apakah ia msk cabang IPA atau IPS. Gak jelas ilmu yg satu ini.......e malah dipaksakan untuk menilai kondisi psikologis si Anak kelas Satu SD. Si Anak di suruh tes pskotes......yg kondisi psikisnya aj msh labil.....lalu gimana hasilnya......org yg di tes dl kondisi labil apakah hasilya valid ? Jgnkan anak2 org dewasa aj.....kadang puyeng juga di tes.....kepada himpsi coba perbanyak simposium2 dan workshop utk anggota2 himpsi. Sudah arif dan bijaksanakah praktek psikologi anda tsb.....dan anehnya layanan psikotes di amrik apalagi utk anak2 sd bukanlah hal yg main main dan perlu assesment lintas disiplin ilmu termasuk psikater dan profesi profesi lainnya. Tujuan psikotes anak sd pun utk deteksi kelainan yg mungkin terjadi pd anak....bukan tujuannya di sana utk menolak mutlak. Jgn sampai org org lain justru meminjam tangan tangan anda utk menolak anak tsb......apalagi jika dketahui anak anak yg di tes tsb tdk ada kelainan baik di periksa oleh psikiater anak, dokter anak, dan psikolog yg memiliki jam terbang tinggi......namun tes tsb lah yg "menggagalkannya" akibat ketidak arifan si Pentester. Si pentester tdk mengerti dgn baik kondisi mental anak meski ia seorang psikolog dan salah kaprah dlm memakai tools tools psikotes serta tdk paham "variable2 yg mempengaruhi". Asal nerima permintaan layanan psikolog sj tanpa bertanya kpd si Pihak sekolah tsb. Naudzubillah min zalik. Ana berlindung kepada Allah dari salah kaprah ilmu pengetahuan dan ilmu2 yg tidak bermanfaat.

    BalasHapus
  6. Kadang klo di liat2 dlm text book buku psikologi tsb......berisi teori teori yg aneh- aneh. Kadang ada teori yg berisi pembagian manusia cuma menjadi 2 macam, ekstrofet dan introfet ? ? Manusia cuma terbagi 2 itu sj ? ? Ya Allah ya Rabbi.....ilmu macam apa ini....layak kah disebut ilmu ? Ane pernah ketemu dokter jiwa dari malay dan ngobrol ngobrol....malah ia sendiri mengaku terkadang teori teori psikologi dlm text book tsb tidak bisa diberlakukan begitu sj dlm praktis sehari hari katanya.....butuh filter lg thdp kebenaran teori tsb......begitu juga psikotes psikotes utk anak2 di AS juga betul betul diperhatikan penggunaannya....klo meragukan antara hasil tes dan penampakan dan prestasi si Anak selama ini...maka tes tes tsb dijadikan case pembahasan bersama sama.....dan tidak segan segan diundang profesi kesehatan lainnya utk memberikan masukan2 atau pandangan......di Indonesia.....ya Allah ya Rabbi....seolah olah pentester itu udah kayak Hakim pemvonis. Ilmu apalah ini ? Di univ tertentu di indo ia trmsk fakultas yg mesyaratkan ipa dan di univ lain ia msk ips.....dirinya sj gak jelas....e malah mau menilai pikiran2 kejiwaan cuma melalui serangkaian tes2 tsb. Anak keci SD kelas satu pulak lg korbannya. Naif sekali praktik praktik macam ini. Ya Allah hamba berlindung kpdmu dari kejahatan2 diri diri hamba ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. apakah teori psikologi yang anda ketahui hanya sebatas ekstrovert dan introvert?
      lucu sekali anda menilai satu hal yang bahkan tidak anda ketahui.
      pelajari terlebih dahulu ilmu psikologi, dan kemudian silahkan anda mengkritik :)

      Hapus
  7. maaf y ilmu psikologi itu msuk ke dalam ilmu terapan
    gk mesti dikaitkan sama agama kok
    seandainya ilmu psikologi baik untuk kita kenapa gk kita pelajari tp ya kalo g mnurutmu agak menyimpang ngapain dibahas bgtu, kan tinggal gak usah dilakukan aj kan beres
    nabi Muhammad kan juga pernah bilang kalo menurutmu itu baik ya lakukanlah dan kalo menurutmu itu salah ya jauhilah
    trma kasih y

    BalasHapus